JAKARTA - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa Perserikatan Bangsa-bangsa telah runtuh di hadapan serangkaian peristiwa di Gaza. Di mana pasukan Israel menembak mati lebih dari 60 warga Palestina ketika Amerika Serikat memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem.

Turki selama ini menjadi salah satu negara yang paling vokal mengkritik kekerasan Israel kepada pedemo di perbatasan Gaza dan keputusan AS untuk membuka kedubes di Yerusalem. Ankara pun meminta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menggelar rapat darurat di Istanbul, Jumat (18/5/2018).

Berbicara di tengah acara hari pertama bulan suci Ramadan, Erdogan menyatakan mayoritas masyarakat internasional tidak merespons serangkaian peristiwa yang terjadi di Gaza. Dia memperingatkan sikap bungkam itu akan "membuka pintu yang sangatlah berbahaya."

"Di hadapan semua peristiwa ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa berakhir. (Badan itu) telah kehabisan tenaga dan runtuh," kata Erdogan, Kamis (17/5). "Jika rundungan Israel dihadapi dengan bungkam, dunia akan segera terseret pada kekacauan di mana kejahatan berkuasa."

Peristiwa di Gaza juga memicu perselisihan diplomatik antara Turki serta Israel. Kedua negara saling mengusir diplomat senior pada Selasa. Perselisihan ini tampaknya menandai krisis diplomatik terburuk antara dua kekuatan kawasasan sejak marinir Israel menyerbu kapal bantuan untuk menegakkan blokade Gaza, 2010 lalu. Insiden itu menewaskan 10 pegiat Turki serta memicu permasalahan diplomatik yang sempat berlangsung hingga 2016.

Erdogan mengatakan pertumpahan darah yang terjadi pada Senin lalu menjadi aksi genosida. Dia menuturkan Turki sudah meluncurkan insiatif untuk memasukkan permasalahan ini ke dalam agenda Majelis Umum PBB dan menekan anggota Dewan Keamanan untuk lebih aktif.

Dia juga mengatakan kantor kepala staf dan kementerian luar negeri Turki tengah bekerja untuk mengevakuasi korban terluka dari Gaza. Ia menegaskan pihaknya akan siap sedia untuk Palestina "berapapun harga yang harus dibayar."

"Bahkan jika dunia menutup mata, kami tidak akan membiarkan kekejaman Israel. Kami akan terus berada untuk saudara kami di Israel, tak hanya dengan hati tapi dengan semua sumber daya. Kami tak akan membiarkan Yerusalem dicuri oleh Israel."