BREAKINGNEWS.CO.ID – Pengusaha sekaligus pegiat seni  Dheyna Hasiholan atau yang akrab dipanggil Dylan, mengimpikan terbentuknya kantong-kantong kebudayaan  di seluruh Indonesia. Cita-cita tersebut mengulangi capaian sama  yang pernah dibuatnya saat masih menjadi mahasiswa Universitas Indonesia tahun 90an lalu.

Untuk bisa mewujudkan keinginan tersebut,  Dylan akan memulainya dengan membuat Kedai Kopi Purbalingga, Kebumen dan Banjarnegara. Karena dari tempat dan lokasi demikian, pegiat seni bisa berkumpul sekaligus ajang menjalin silaturahmi. Dari tempat pertemuan tersebut diharapkan lahir rutinitas kegiatan  sekaligus   media apresiasi bagi pegiat seni di daerah tersebut.

Dylan sendiri adalah seorang politisi yang juga aktif di dunia teater sejak masih kuliah maka tak mengherankan jika perhatiannya akan dunia teater sangat besar. Dylan banyak menghabiskan waktu di tempat-tempat berkumpulnya para pegiat seni. Di sana dia berdiskusi dan bertumbuh, baik secara intelektual maupun secara jaringan.

Di masa 90an, Dylan pernah membuat sebuah warnet dengan harga sewa sangat murah. Sejak awal warnet itu memang tidak untuk berbisnis, namun memang sengaja untuk tempat berkumpul, dan memang warnet itu tak pernah sepi. Tak hanya itu, Dylan dan beberapa teman juga membuat sebuah komunitas unik yang dinamakan Cak Tarno Insititut. Ini adalah komunitas yang ada di penjual buku bernama Cak Tarno, dan kegiatan komunitas adalah ‘menguji’ skripsi anggota komunitas dengan diskusi secara bebas. Jika skripsi anggota itu ‘lulus’ di Cak Tarno Institut maka kemungkinan besar juga akan lulus di ujian sebenarnya. Komunitas ini pun sudah ‘menghasilkan’ sekitar 30 doktor dan banyak lagi lulusan S1 di UI.

 

“#Teman Dylan adalah suatu tawaran solusi sebagai wujud dari memulai mewadahi gerak kreasi dan kreativitas pemuda (kelompok milenial) dalam berbagai bidang seperti seni-budaya. #Teman Dylan bukan sekedar icon kedekatan hubungan personal orang per orang semata, tetapi ini juga adalah kolabarasi ide kreasi & kreativitas lintas latar belakang untuk mengakselarasi pemberdayaan potensi masyarakat dari berbagai komunitas, seperti komunitas seni budaya,” ujar Dylan di temu dengan media di Ground 57, Hang Likeu, Kebayoran Baru, Jum’at (26/10/2018)