BREAKINGNEWS.CO.ID - Tidak ada manusia yang sempurna, pesepakbola profesional bukan jaminan tanpa kesalahan, kata itu layak disematkan kepada pemain Timnas Indonesia U-19, Saddil Ramdani. Pemain yang terkenal dengan gocekan pecel lele itu terancam mendekam di penjara. Ia terjerat kasus kasus penganiayaan yang dilakukan terhadap kekasihnya, Anugerah Sekar Rukmi (19), warga Desa Mlaras, Kecamatan Sumobito, Jombang. Jawa Timur Kejadian tersebut ditengarai dilakukan pada Rabu (31/10).

Kasatreskrim Polres Lamongan AKP Wahyu Norman Hidayat mengatakan, apa yang dialami Saddil merupakan kasus penganiayaan yang bersumber dari percintaan anak muda.Menurutnya, Saddil bisa terjerat pasal 351 ayat 1 dengan ancaman dua tahun delapan bulan, atau 352 KUHP dengan ancaman penjara sembilan bulan. Pemain tim nasional Indonesia U-19 dan U-23 tersebut pun kini sudah ditahan pihak Kepolisian.

"Ditahan sampai dilimpahkan ke JPU (Jaksa Penuntut Umum). Kecuali keluarga mengajukan hak untuk meminta penangguhan. Untuk prosesnya kami lakukan sesuai dengan prosedur karena ada pelapor, korban, dan terlapor. Makanya kami periksa saksi-saksi dan kami cukupi alat buktinya," kata Norman.

Kasus yang menimpa Saddil bukanlah yang pertama dilakukan oleh pemain sepak bola sekaliber Timnas Indonesia. Sebelum permain Persela Lamongan itu, sederet tindakan kriminal juga pernah dilakukan oleh pemain yang pernah menjadi penggawa Merah Putih. Breakingnews.co.id, mencoba meringkasnya untuk anda:

Eks Timnas Indonesia U-23, Andika Yudhistira Lubis

Kasus yang masih hangat adalah insiden yang menyeret Andika Yudhistira Lubis. Mantan anggota skuat timnas Indonesia U-23 saat berlaga di SEA Games Laos itu ditangkap polisi atas laporan seorang perempuan atas kasus tuduhan perampokan dan percobaan pemerkosaan. Andika dilaporkan pada 26 Februari 2018 dengan nomor laporan LP/358/K/II/2018/SPKT Restabes Medan. Kejadian perampokan yang diduga dilakukan Andika terjadi di Jl Seksama, Kecamatan Medan, Kota Medan, pada Sabtu (24/2). Korbannya seorang perempuan berinisial AN, warga Kecamatan Medan. Barang bukti yang diamankan polisi adalah sepasang sepatu berwarna hitam milik korban, 1 unit mobil Avanza milik Andika, dan 2 pakaian wanita yang belum diketahui pemiliknya.

Mirisnya,kasus itu ternyata bukan yang pertama kali bagi Andika, Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Putu Yuda Prawira, mengatakan mantan pemain PSMS Medan itu sudah 2 kali keluar-masuk LP. AKBP Putu mengungkapkan, pada periode 2013-2014, Andika tersangkut kasus narkoba. Saat itu Dika divonis 9 bulan penjara. Sedangkan pada 2016, Andika pernah tersangkut kasus pencurian tapi berdamai dengan korban. Untuk kasus ini, polisi menjerat Andika dengan Pasal 365 KUHP.

Eks Timnas Indonesia U-19, Maldini Pali

Pada tahun 2013, namanya dieluh-eluhkan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Karena, Maldini Pali merupakan salah satu pemain yang peling menonjol kala Timnas Indonesia U-19 menjuarai Piala AFF U-19 2013. Namun, pada 2017, Maldini terseret kasus pidana yaitu pelecehan seksual. Nyatanya, insiden itu bukan hanya menyeret Maldini seorang. Maldini diduga melakukannya dengan dua rekannya yang saat itu masih satu tim di Sriwijaya FC. Marco Sandy Maraudje dan Hendra Sandi. Marco, Maldini, dan Hendra, dituding melakukan tindak pemerkosaan dan penganiayaan terhadap korban berinisial IR.

Kepala Kepolisian Sektor Ilir Barat I, Komisaris Polisi Handoko Sanjaya mengatakan, saat penangkapan penangkapan di kamar hotel 401 Kawasan Komplek Ilir Barat Permai, petugas menemukan alat kontrasepsi yang berjumlah lebih dari dua. Ada juga pecahan botol di kamar dan handuk. "Korban IR luka memar di tangan. Kasusnya sekarang ditangani Polresta Palembang, karena kemarin malam sudah dilimpahkan," terang Handoko.

Eks Timnas Indonesia U-18, Dedek Hendri

Namanya memang tidak terlalu terkenal, namun ia pernah memperkuat Timnas U-18 pada tahun 2008. Namun, siapa yang dapat menduga bahwa pemain yang berpotensi ini malah berakhir sebagai begal dan menjadi pesakitan di balik jeruji besi. Dedek, harus mendekam di sel Mapolresta Pekanbaru setelah melancarkan aksi begalnya. Jauh sebelum menjadi begal, ia sempat gantung sepatu dan menjadi pecandu narkoba jenis sabu.

Ketika keuangan semakin tipis, ia memutuskan melakukan kejahatan tersebut bersama dengan kawannya. Motifnya jelas, butuh uang untuk beli sabu.
Pada awal tahun 2016, dengan menggunakan senjata api, Dedek melakukan tindakannya. Bukan hanya merampas motor, Dedek pun melepaskan tembakan ke arah paha korban. Alhasil kepolisian menangkapnya dan menjebloskannya ke penjara.

Eks Timnas Indonesia U-23, Diego Michiels

Pesepakbola Diego Michiels sempat terlibat kasus hukum karena diduga melakukan penganiayaan terhadap korban berininsial DJS. Pemain yang sempat membela Tim Nasional Indonesia itu dilaporkan melakukan penganiayaan di sebuah restoran di daerah Kemang, Jakarta Selatan, pada 21 Mei 2017. Belum diketahui bagaimana perkembangan kasus yang menjerat pemain yang kini membela kesebelasan Borneo FC itu.

Namun pada akhir Desember 2017, kasusnya dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Hingga kini kasus tersebut menguap begitu saja. Kasus hukum yang menjerat Diego bukanlah yang pertama. Pada tahun 2013, ia juga sempat terjerat kasus hukum serupa. Kala itu Diego meminta maaf dan majelis hakim memberikan vonis lebih ringan dibandingkan tuntutan Jaksa. Diego hanya divonis 3 bulan 20 hari penjara namun langsung dibebaskan karena dianggap sudah menjalani masa hukuman sejak ditahan pada 10 Novermber 2012.

Isnan Ali

Karir sepak bola Isnan Ali melejit pada 1997 kala ia bermain di kejuaraan Pekan Olahraga Daerah (Porda) Makassar. Setelah itu, melejit sejak bermain di , pada tahun 1997. Saat itu ia melesakkan gol penentu yang membawa timnya juara di partai final. Isnan Ali kemudian bergabung dengan PT Telecom selama 2 tahun. Namun pada saat PT Telecom hendak berangkat ke sebuah kejuaraan nasional di Surabaya, Isnan dihadapkan oleh dua pilihan. Fahri Amiruddin (Mitra Kukar) menyarankan agar Isnan mewakili tim PRA-PON Banjarmasin untuk mendorong karier sepak bolanya. Isnan sempat diterpa dilema pilihan yang cukup berat. Namun pada akhirnya ia memutuskan untuk mewakili Banjarmasin di Pekan Olahraga Nasional.

Kesempatan ini membuka karir Isnan untuk bergabung dengan Barito Putera Banjarmasin pada tahun 1999. Selain masih muda, pada tahun pertamanya dengan Barito, tepatnya pada putaran ke-2 Liga, Isnan mulai bermain sebagai pemain inti. Bahkan pada tahun ke-2 bersama Barito Putera, Isnan dipanggil PSSI untuk bergabung bersama tim nasional Indonesia di kualifikasi Piala Dunia (2002) dan Sea Games Malaysia (2002).

Isnan Ali kemudian bergabung dengan pasukan Rahmad Darmawan di Sriwijaya FC 2007. Pada 2013, Isnan Ali dinyatakan positif menggunakan narkoba jenis sabu. Kendati sempat mejadi tersangka, pihak kepolisian tidak melakukan penahanan. Isnan Ali hanya diharuskan jalani hukuman wajib lapor.

.