BREAKINGNEWS.CO.ID – Pihak Kepolisian Maryland menyebut bahwa pria bersenjata yang menyerang kantor berita di Annapolis, Maryland, Amerika Serikat, mengaku menginginkan jumlah korban yang lebih banyak. Dikarenakan pelaku menyimpan dendam sejak lama terhadap media tersebut.

Kepolisian menyampaikan tersangka yang teridentifikasi sebagai penduduk Maryland bernama Jarrod Ramos menggunakan senjata yang ia beli secara legal untuk melakukan penyerangan pada Kamis (28/6/2018) waktu setempat. Serangan tersebut menyebabkan lima orang karyawan media politik the Capital Gazette yang sedang berada di kantor, tewas.

Atas perbuatan Ramos, jaksa wilayah Wes Adams menuturkan hakim memerintahkan agar pelaku ditahan tanpa jaminan atas lima tuduhan pembunuhan tingkat pertama. Adams menyampaikan keputusan tersebut berdasarkan pada bukti kalau serangan itu dilakukan dengan terkoordinasi serta terencana, dan menggunakan teknik memburu dalam melakukan aksi yang menewaskan lima korban tak bersalah.

"Pelaku ada di sana untuk membunuh sebanyak-banyaknya orang," kata Kepala Polisi Anne Arundel County, Timothy Altomore. Kepolisian mengonfirmasi bahwa Ramos memiliki dendam sejak lama terhadap media tersebut yang bermula dari sebuah artikel terbitan tahun 2011 perihal kasus kriminal pelecehan yang dituduhkan kepadanya oleh mantan teman sekelas dia saat SMA.

Mantan editor surat kabar tersebut, Thomas Marquardt menyampaikan kepada MSNBC bahwa Ramos kerap membuat ancaman terselubung kepada karyawan dan jurnalis media itu. Akibat ancaman tersebut, pihak media memberitahu karyawannya untuk segera menghubungi nomor darurat ketika mengetahui Ramos memasuki kantor.

Altomore mengakui kepolisian sempat mengusut kasus ancaman yang dilakukan secara daring (dalam jaringan / Online) pada 2013 yang menyerang surat kabar tersebut. Namun surat kabar tersebut tak ingin melanjutkan kasus tersebut dikarenakan khawatir akan memperburuk situasi. Ancaman yang diberikan melalui komentar-komentar di internet tersebut diketahui berasal dari Ramos. Ramos pun saat ini enggan untuk bertindak kooperatif dengan hanya diam ketika menjalani proses penyelidikan.

Usai diserang, surat kabar tersebut tetap beroperasi dengan menerbitkan edisi terbaru. Tetapi edisi yang tayang pada Jumat (29/6) itu bertuliskan "5 Tewas Tertembak di the Capital Gazette". "Kami tak bisa kata-kata," tulis redaksi dalam berita edisi terbaru tersebut, dan menyisakan sebagian halaman kosong untuk menghormati korban jiwa serangan itu.

Di sisi lain, Presiden AS, Donald Trump turut prihatin dengan serangan itu, walaupun ia dikenal kerap keras kepada media di Amerika Serikat. "Kejadian tersebut adalah penembakan mengerikan yang mengejutkan hati nurani bangsa kita. Jurnalis, seperti semua orang Amerika, haruslah bebas dari ketakutan atas serangan ketika melaksanakan tugasnya." kata Trump.