Amerika Serikat siap bekerja sama juga dengan Rusia dalam usaha mencari jalan keluar atas perang berkelanjutan yang berlangsung di Suriah. Hal tersebut diungkapkan Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson, di Washington DC, Rabu (5/7/2017) saat setempat, seperti diambil AFP.

Pernyataan itu diterbitkan dua hari mendekati pertemuan pertama Presiden Donald Trump serta Presiden Rusia Vladimir Putin. Tillerson menyebutkan, Rusia mempunyai tanggung jawab khusus untuk menolong dalam menyetabilkan negara yang dirundung perang itu.

"AS siap untuk mengeksplorasi peluang dan membuat mekanisme gabungan dengan Rusia untuk meyakinkan kestabilan, termasuk juga zone larangan terbang," ungkap Tillerson.

"Sebagai pengamat gencatan senjata, serta pengiriman pertolongan kemanusiaan yang terkoordinasi, " kata Tillerson.

Tillerson keluarkan pernyataannya sebelum bergabung dengan Trump di Eropa, dimana pemimpin AS itu bersiap untuk berjumpa untuk pertama kalinya dengan Putin. Mereka dijadwalkan berjumpa di sela-sela pertemuan puncak G20 di Hamburg, Jerman.

Isu Suriah diprediksikan juga akan menelan jumlah besar dalam perbincangan kedua pemimpin itu. Pertemuan ini juga berlangsung saat beberapa pejuang yang didukung AS masuk Kota Tua Raqa, yang oleh Washington dilihat menjadi tonggak penting, dalam kampanye menaklukkan kelompok teroris Negara Islam di Irak serta Suriah (ISIS). Sebab, secara de facto, Raqa adalah Ibu Kota untuk gerombolan teroris itu.

"ISIS sudah terluka kronis, serta berada diambang kekalahan secara keseluruhan di Suriah jika semua pihak berkonsentrasi pada tujuan ini, " kata Tillerson.

"Untuk merampungkan misi, masyarakat internasional, dan terutama Rusia, mesti menyingkirkan kendala dalam menaklukkan ISIS. "

"Kami menyerukan pada semua pihak, termasuk juga pemerintah Suriah serta sekutu-sekutunya, pasukan oposisi Suriah, serta pasukan Koalisi yang melakukan pertempuran untuk menaklukkan ISIS. "

"Pihak-pihak itu mesti menyatu serta menghindari perseteruan keduanya, dan mematuhi batas-batas geografis yang disetujui. "

Tillerson secara khusus meminta Rusia untuk membantu dalam membuat kestabilan di lapangan - atau ada resiko ISIS tidak jadi ditaklukkan.

Selanjutnya, Rusia mesti mengambil peranan dalam penyelesaian problem politik, dengan memetakan jalan ke depan untuk rakyat Suriah. "Rusia mempunyai tanggung jawab khusus untuk menolong dalam usaha ini, " kata Tillerson.

Tillerson juga menyebutkan, Moskwa menjadi pendukung paling utama Presiden Suriah Bashar al Assad yang mempunyai tanggung jawab untuk menghindar rezim itu memakai senjata kimia lebih jauh.

AS sebelumnya sudah meluncurkan serangan rudal jelajah ke salah satu pangkalan udara Suriah pada bulan  April. Hal tersebut dilakukan sebagai respon atas serangan senjata kimia oleh pemerintah Suriah pada warga sipil.