BREAKINGNEWS.CO.ID -  Pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia menyambut positif majunya presiden petahana Joko Widodo Bersama KH Ma’Ruf Amin pada pilpres 2019 mendatang. Hal itu terlihat dari penguatan yang terjadi pada akhir sesi pertama perdagangan di lantai bursa pada Jumat (10/8/2018).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,46% pada akhir sesi 1 ke level 6.093,1.  Angka tersebut menjadi yang terbaik diantara bursa regional  Asia, seperti indeks Nikkei yang turun 0,64%, indeks Shanghai turun 0,14%, indeks Hang Seng turun 0,46%, indeks Strait Times turun 1,21%, indeks Kospi turun 0,78%, dan indeks SET (Thailand) turun 0,66%.  Sementara hanya indeks KLCI (Malaysia) bisa menguat walaupun masih di bawah IHSG, yakni sebesar 0,16%.

Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 3,22 triliun dengan volume sebanyak 3,98 miliar unit saham. Frekuensi perdagangan adalah 191.191 kali.

Sejumlah pengamat menilai,  peluang Jokowi dalam memenangkan pilpres 2019 dianggap semakin lebar dengan menggandeng Ketua MUI tersebut.

Apalagi sejak sebelum deklarasi elektabilitas Jokowi memang sudah mengungguli lawannya Prabowo Subianto untuk  wilayah  Jawa dan Sumatera.  "Laporan ini merupakan hasil olahan data dari 71 survei polmark research center - polmark Indonesia di tingkat Provinsi, kabupaten dan kota dalam waktu 15 Januari 2016 sampai 11 Juni 2018," ujar CEO Polmark Eep Saefullah Fatah.

Selain itu,  saat kubu oposisi memilih Sandiaga Uno sebagai pendamping Prabowo, maka pemilihan  Ma'ruf Amin  dinilai sebagai sebuah keuntungan untuk kubu Jokowi.

Sedangkan menurut Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago menilai terpilihnya Sandiaga sebagai cawapres akan menimbulkan kesan bahwa kubu Prabowo meninggalkan amanat ijtimak ulama. "Prabowo meninggalkan ulama dan umat. Itu berat. Pada saat yang sama Pak Jokowi merangkul ulama," kata Pangi

Selama ini, pelaku pasar memang bisa dibilang menyukai kepemimpinan presiden Joko Widodo dengan trademark yang dimilikinya yakni pembangunan infrastruktur yang bisa menopang perekonomian Indonesia dalam jangka panjang.

Di sisi lain, Prabowo yang sering menyuarakan penolakannya terhadap campur tangan pihak asing sering dianggap kurang favorable bagi pasar modal.