BREAKINGNEWS.CO.ID - Pilgub Jabar 2018 dinilai telah mengakhiri tren kesuksesan terhadap politik citra yang mendominasi berbagai kontestasi politik di Indonesia selama satu dekade ini. Hal itu pun diungkapkan oleh mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Menurutnya, politik citra ini telah berubah menjadi politik gerilya teritorial. Hal itu yakni sebuah upaya politik untuk menjaring berbagai segmen pemilih melalui jaring darat yang mengakar. "Di Pilgub Jabar ini, survei banyak yang meleset. Analisis pakar banyak yang meleset. Artinya, ada perubahan fenomena, politik citra berubah menjadi politik gerilya teritorial. Ini harus diwaspadai Partai Golkar di Pilpres 2019, termasuk partai lain pengusung Pak Jokowi," kata Dedi, Sabtu (30/6/2018).

Adapun saat ini posisi Jawa Barat menurutnya sangat strategis dalam panggung politik nasional. Mengingat, Jabar merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia dengan jumlah pemilih terbanyak yakni 31 juta orang yang tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Dengan jumlah pemilih sebesar itu, tentu menjadi incaran para kandidat calon, terlebih pada tahun 2019 mendatang akan berlangsung pemilihan presiden dan wakil presiden. Dedi pun memastikan jika semua calon ingin menjadikan Jawa Barat sebagai provinsi dengan basis pemilihnya demi insentif elektoral.

Pada Pilgub Jabar yang idgelar pada Rabu (27/6/2018) lalu, Dedi sendiri ikut bertarung memperebutkan kursi Jabar 1 sebagai calon wakil gubernur bersama pasangannya Deddy Mizwar. Pasangan yang mendapatkan nomor urut 4 itu gagal memenangkan ajang tersebut lantaran perolehan suaranya kalah dengan pasangan lainnya yakni Ridwan kan=mil-Uu Ruzhanul Ulum yang berhasil mengungguli pasangan lainnya termasuk pasangan Deddy-Dedi. Dedi sendiri hanya mampu memperoleh raihan suara sebesar 25,8 persen pada hitung cepat versi sejumlah lembaga survei.

Namun, pada hasil survei sejumlah lembaga sebelum memasuki tahapan pencoblosan memprediksi akan terjadinya persaingan antara pasangan Deddy-Dedi dan pasangan Ridwan Kamil-Uu. Akan tetapi, prediksi tersebut jauh meleset. Pasangan Sudrajat-Syaikhu mampu menyalip perolehan suara Deddy-Dedi. "Anda bayangkan, mohon maaf, elektabilitas di awal rendah, lalu naik ke 10 persen. Kemudian, loncat ke 15 persen sampai akhirnya 28 persen saat pemilihan," kata Dedi.

Strategi Gerilya Ampuh

Pria yang khas dengan iket Sunda tersebut pun memberikan penafsiran atas fenomena yang terjadi. Menurutnya, terdapat gelombang peralihan pilihan politik seminggu jelang pemilihan gubernur dan wakil gubernur berlangsung. "Artinya, ada pergerakan besar dengan strategi yang ampuh, menyasar teritorial dengan cara bergerilya. Sehingga, akibatnya mengubah konstelasi Pilgub Jabar," jelasnya.

Sehingga, suara pasangan yang dikenal dengan istilah DuoDM tersebut tergerus akibat adanya gelombang peralihan dukungan tersebut. Karakteristik pemilih Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi memang berbeda. Ia pun menjelaskan jika peraih banyak piala citra itu memiliki basis pemilih yang banyak beririsan dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Karena, Deddy Mizwar didukung oleh partai berbasis pemilih Islam itu saat berpasangan dengan Ahmad Heryawan di Pilgub 2013. Bahkan, awal isu Pilgub 2018 bergulir, PKS pernah mewacanakan untuk mendukung Deddy Mizwar dengan Ahmad Syaikhu. Sementara Dedi Mulyadi, memiliki basis pemilih tradisional yang kuat. Pemilih tersebut telah terpapar sosialisasi kemajuan Purwakarta.

Hal ini dibuktikan dengan dominasi Dedi Mulyadi di Purwakarta, Subang dan Karawang. Tak hanya itu, pinggiran Kabupaten dan Kota Bekasi pun menjadi basis Dedi. "Ada kutub pemilih yang berbeda antara saya dengan Pak Demiz. Pemilih Pak Demiz banyak beririsan dengan PKS. Juga terkait partai pengusung Pak Demiz, mungkin belum sejalan dengan konstelasi Pilpres 2019. Sehingga, basis elektoral ini yang mengalihkan dukungan," katanya.

Adapun, peralihan dukungan tersebut terjadi sat debat publik II Pilgub Jabar di Depok, Jawa Barat. Saat itu, Pasangan Sudrajat-Syaikhu memperlihatkan kaus bertuliskan #2019GantiPresiden. Kondisi ini semakin diperparah dengan manuver Ketua Umum Partai Demokrat Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dalam konferensi pers di Kota Bogor, SBY menyebut bahwa Pj Gubernur Jawa Barat M Iriawan menggeledah rumah dinas wakil gubernur. "Dalam posisi ini, kami paling dirugikan. Suara kami tergerus hingga 15%," ucapnya.

Di Pilpres 2019 mendatang, Partai Golkar tempat Dedi Mulyadi berkiprah, mengusung Joko Widodo. Perbedaan ceruk suara inilah yang mengakibatkan basis elektoral pasangan Duo DM tidak solid. Meski begitu, Dedi mengaku bahagia. Sebab, di tengah gelombang isu yang menyerang, basis tradisional miliknya tetap terjaga dengan baik. "Saya bahagia karena basis saya tidak hancur. Kalau dulu sebelum Pilgub Jabar suara saya 15 persen, sekarang ada di angka 25 persen," tuturnya.