BREAKINGNEWS.CO.ID - Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) mengungkap produsen film pornografi yang bekerja menggunakan media sosial (medsos) dan grup percakapan telepon seluler. Para pelaku diketahui menjadi bagian dari jaringan pedofilia atau penyuka seks dengan anak di bawah umur yang menyebarkan konten porno ke lintasnegara.

“Para tersangka diduga menyebarkan konten pornografi melalui media sosial kepada anggotanya tersebar pada 63 negara,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono, di Jakarta, Senin (25/6/2018). Ketiga tersangka itu berinisial WR ditangkap di Tangerang, Banten, AD diringkus di Palembang, Sumatera Selatan, dan IW dibekuk di Matraman, Jakarta Timur.

Argo menjelaskan, awalnya anggota Subdirektorat Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya mengungkap akun Facebook “Official Loly Candy” yang diduga mendistribusikan konten pornografi anak secara daring pada 2017.

Penyidik lalu mengembangkan jaringan penyebar konten pornografi anak itu. Jaringan itu diketahui memproduksi dan mendistribusikan melalui aplikasi percakapan Whatsapp dan Telegram yang terdapat 40 grup dan setiap grup memiliki 200 anggota dari 63 negara.

Petugas Polda Metro Jaya selanjutnya meminta bantuan kepada Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (Federal Bureau of Investigation/FBI) untuk berkoordinasi mengidentifikasi para pelaku di negara itu dengan bantuan aplikasi Facebook dan Whatsapp.

Dari hasil koordinasi tersebut, kata Argo, aparat kepolisian antarnegara (interpol) menggelar operasi serentak pada 23 negara yang berhasil terungkap antara lain di El Salvador, Chili, dan Guatemala dengan 13 tersangka yang ditangkap berdasarkan pengembangan kasus di Polda Metro Jaya.

Argo menuturkan, tersangka WR berperan menggunakan akun Facebook “williamfernando886” untuk bergabung grup “Official Loly Candy” sejak 2016. Selanjutnya, WR keluar grup itu setelah mengetahui administrator grup tersebut ditangkap polisi karena menyebarkan konten pornografi untuk kepuasan seksual.

Sementara, tersangka AD bertugas mengunggah video menggunakan akun Facebook “Shintia Sartika Putri” dengan motif untuk kepuasan seksual pribadi. Adapun tersangka IW mengunggah konten melalui grup Facebook berakun “citralestari.lestari” dan grup Whatsapp “lolycandy”.

Para tersangka dijerat Pasal 27 ayat 1 juncto Pasal 45 ayat 1 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Eletronik (UU ITE).

Pelaku juga dijerat Pasal 4 ayat 1 juncto Pasal 29 dan/atau Pasal 4 ayat 2 juncto Pasal 30 UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dan/atau Pasal 76D juncto Pasal 81 atau Pasal 76E juncto Pasal 82 dan atau Pasal 76I juncto Pasal 88 UU Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman penjara paling lama 15 tahun dan denda maksimal Rp5 miliar.