BREAKINGNEWS.CO.ID - Setelah dua bulan berjalanya masa kampanye, isu dan program yang menjadi hot issues di media konvensional dan trending topic di media sosial, ternyata mayoritas tak memiliki efek elektoral yang signifikan terhadap pemilih secara luas. Isu-isu tersebut lebih banyak menjadi sensasi dalam diskursus publik selama masa kampanye dan tak banyak berpengaruh pada naik turunnya suara capres. Dari survei terbaru LSI Denny JA, isu/program yang punya efek elektoral adalah program kedua capres yang langsung bersentuhan dengan pemilih.

Dalam rilis survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang mengusung tema 'Dua Bulan Kampanye: Pertarungan Program dan Isu' menemukan jika terdapat enam isu yang populer dan memiliki efek elektoral selama dua bulan masa kampanye.

"Isu yang dikategorikan punya efek elektoral minimal memiliki dua syarat. Syarat pertama ada|ah isu tersebut didengar diatas 50 persen pemilih. Dan syarat kedua adalah isu tersebut memiliki tingkat kesukaan atau tingkat ketidaksukaan diatas 60 persen dari mereka yang mengaku pernah mendengar isu tersebut," kata peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar dalam paparannya di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (6/12/2018).

Untuk itu, dirinya mengatakan jika ada enam isu yang memiliki efek elektoral selama masa kampanye diantaranya adalah Penyelenggaran Asian Games, Kunjungan Jokowi ke Gempa Palu, Kunjungan Jokowi ke Gempa Lombok, Hoax Ratna Sarumpaet, Dollar 15ribu, dan Pembakaran Bendera Tauhid.

"Penyelenggaraan Asian Games didengar oleh 85,1 persen pemilih. Dari mereka yang pernah mendengar kegiatan ini, sebesar 96,5 persen menyatakan mereka suka dengan kegiatan tersebut," ujar Rully.

Sementara itu, kunjungan Jokowi ke Gempa Palu diketahui oleh 75,5 persen pemilih. Dari mereka yang mendengar sebesar 93,7 persen menyatakan bahwa mereka suka dengan kegiatan tersebut. Begitu juga kunjungan Jokowi ke Gempa Lombok, diketahui oleh 67,9 persen pemilih. Dan sebesar 94,5 persen dari mereka yang tahu atau pernah mendengar menyatakan suka dengan kegiatan tersebut.

"Kasus hoax Ratna Sarumpaet diketahui oleh 57,2 persen pemilih. Dan dari mereka yang tahu kasus tersebut, hanya sebesar 3,7 persen yang menyatakan suka. Sementara mereka yang menyatakan tidak suka dengan kasus tersebut sebesar 89,5 persen," ungkapnya.

Sementara itu, terkait dengan isu Rapat Tahunan IMF di Bali, isu tidak akan melakukan impor, isu the new Prabowo, Politik Sontoloyo, kunjungan Prabowo ke Gempa Lombok dan isu Yusril Ihza Mahendra (Ketua Umum Partai Bulan Bintang) jadi pengacara tim Jokowi-Ma'ruf tidak memiliki efek elektoral yang signifikan bagi pasangan capres-cawapres di Pilpres 2019.