BREAKINGNEWS.CO.ID – Sebagai hadiah atas hubungan baik antara Cina dan Filipina, pemerintah Beijing dilaporkan akan segera menyumbang empat buah kapal dengan panjang 12 meter serta 30 buah granat berpeluncur roket (RPG) kepada negara yang saat ini sedang dipimpin oleh Presiden Rodrigo Duterte.

Menurut Komandan Angkatan Laut Filipina, Jonathan Zata, hibah tersebut melanjutkan kesepakatan bantuan dari Cina pada tahun 2017 lalu, berupa sekitar 6.000 senjata serbu, ratusan senapan jitu, senjata kecil, serta amunisi. Dilansir South Cina Morning Post pada Senin (30/7/2018), Komandan Zata menuturkan bahwa seluruh bantuan dari Cina itu merupakan peralatan baru, yang dimaksudkan untuk memberikan dukungan logistik jangka panjang terhadap peran Filipina dalam menjaga perdamaian nasional dan regional.

Disebutkan pula bahwa senjata serbu telah diserahkan kepada Kepolisian Nasional Filipina (PNP), untuk membantu mengisi kekurangan alat pasca-pembekuan pesanan 26.000 senapan M4 oleh legislator Amerika Serikat (AS) pada 2016. Pembekuan pesanan itu terjadi di tengah kekhawatiran AS terhadap tuduhan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam perang sengit Presiden Duterte terhadap narkoba, yang sudah menewaskan ribuan orang di Filipina.

Presiden Duterte, yang belakangan dinilai bersikap semakin kritis terhadap AS, berusaha melakukan perbaikan hubungan antara Filipina dengan musuh lamanya, Cina. Seakan menutup mata perihal perselisihan di Laut Cina Selatan (LCS), saat ini Manila berusaha mempererat hubungan politik serta perdagangan dengan Beijing. Walaupun masih kecil dalam hal persetase, akan tetapi bantuan Tiongkok terhadap Filipina dinilai oleh beberapa pengamat, sebagai manuver tajam pemerintahan Duterte dalam memosisikan negara itu dalam peta hubungan strategis di tingkat Asia Pasifik, dan khususnya di Laut Cina Selatan.

Selama ini, Manila lebih banyak menerima bantuan senjata dari AS, yang dimulai semenjak perjanjian kedua negara pada 1950. Selama lima tahun terakhir, Washington menyediakan 15 miliar peso atau sekitar 11,5 triliun rupiah bantuan militer, termasuk juga pesawat tidak berawak, kapal, pesawat pengintai, serta senapan serbu. Tidak hanya itu, Filipina serta AS juga diketahui rutin mengadakan latihan gabungan selama beberapa puluh tahun, dengan rata-rata diikuti oleh 300 pasukan. Tetapi, hal tersebut dalam beberapa waktu terakhir kerap dirongrong oleh desakan Duterte atas penyesuaian pakta pertahanan bilateral pasca-merdeka dari Washington pada 1946 silam.