BREAKINGNEWS.CO.ID – Pemerintah Cina melalui media pemerintahannya menganggap pelayaran yang dilakukan kapal perang Inggris di Laut Cina Selatan (LCS) pada akhir Agustus 2018 lalu beresiko mengganggu negosiasi hubungan dagang antar kedua negara, terutama setelah London resmi keluar dari Uni Eropa (Brexit).

Surat kabar Cina Daily menganggap pelayaran HMS Albion pada 31 Agustus 2018 lalu di dekat Kepulauan Paracel berisiko "bisa merusak setiap peluang dalam perundingan dagang kedua negara." "Cina serta Inggris sudah sepakat untuk secara aktif mengeksplorasi kemungkinan membicarakan perjanjian perdagangan bebas setelah Brexit berlaku. Setiap tindakan yang merugikan kepentingan utama Cina hanya akan merusak negosiasi," bunyi laporan editorial koran tersebut, Jumat (7/9/2018).

Bulan lalu, Cina serta Inggris memang telah sepakat meninjau peluang kerja sama perdagangan bilateral pasca-Brexit berlaku Maret 2019 mendatang. London telah lama merayu Beijing untuk mempertahankan hubungan dagang setelah Brexit berlaku. Walaupun demikian, pembicaraan resmi kedua negara tidak bisa dimulai sampai Inggris secara resmi meninggalkan Uni Eropa.

Apabila kerja sama perdagangan tersebut disetujui, ini akan menjadi kemenangan politik yang signifikan bagi pemerintahan Perdana Menteri Theresa May. Walaupun demikian, peninjauan hubungan dagang keduanya diperkirakaan memakan waktu hingga bertahun-tahun. Dalam editorial itu, Beijing menganggap Inggris mencoba "menjilat" Amerika Serikat karena belakangan didesak untuk lebih banyak berpartisipasi internasional dalam kebebasan bernavigasi di perairan internasional strategis.

"Sekarang ini Inggris sedang mengincar AS sebagai garis hidup ekonominya setelah mereka keluar dari Uni Eropa. Inggris tidak diragukan lagi ingin merebut kesempatan apapun yang bisa dekat dengan Washington," kata Kemhan AS seperti dikutip Reuters. Ancaman keberlangsungan negosiasi itu dilontarkan Cina setelah HMS Albion kedapatan berlayar di dekat Kepulauan Paracel yang saat ini masih menjadi sengketa antara Cina, Taiwan, dan Vietnam.

Cina dikabarkan mengerahkan kapal fregat (salah satu jenis kapal perang) dan dua helikopter militer untuk mencegat kapal perang Inggris tersebut. Meski begitu, kedua pihak disebut berada dalam posisi tenang selama pertemuan itu. Melalui pernyataan, Kementerian Pertahanan Cina juga mengatakan kalau upaya bersama yang dilakukan Beijing bersama dengan negara-negara Asia Tenggara selama ini sudah mampu menjaga stabilitas Laut Cina Selatan.

"Negara-negara tertentu dari luar kawasan tidak mengerti ini, dan mengirim kapal-kapal militer serta pesawat militernya ke Laut Cina Selatan untuk membuat masalah dan mengancam perdamaian serta stabilitas regional." Cina telah lama mengklaim hampir 90 persen wilayah di Laut Cina Selatan, yang merupakan salah satu jalur perdagangan utama dengan nilai mencapai 3 triliun dolar AS atau sekitar 43.128,1 triliun rupiah setiap tahun.

Klaim Cina tersebut bertabrakan dengan klaim sejumlah negara terutama di negara di Asia Tenggara seperti Brunei, Malaysia, Filipina, Vietnam, hingga Taiwan. Meski klaim Cina itu telah dimentahkan Pengadilan Arbitrase Permanen (PCA), pemerintahan Presiden Xi Jinping berkeras memprotes setiap entitas asing, terutama militer, yang berlayar di Laut Cina Selatan.