Andi Zulkarnaen Mallarangeng dengan kata lain Choel Mallarangeng terasa kecewa pada jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Choel terasa jaksa KPK sekalipun tidak memperhitungkan kemauan sebaiknya untuk berlaku kooperatif.

Hal tersebut disebutkan Choel waktu membacakan nota pembelaan atau pleidoi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (15/6/2017).

" Seakan-akan, semua tak ada fungsinya sekalipun, " kata Choel waktu membacakan pleidoi.

Choel sudah ajukan diri jadi juicetice collaborator, atau saksi pelaku yang bekerja sama juga dengan penegak hukum. Menurut Choel, dalam persidangan ia sudah mengaku tindakannya pada hakim.

Choel terasa sudah menyerahkan semuanya uang yang ia terima pada KPK. Bahkan juga, menurut Choel, ia sudah bersedia membuka pelaku paling utama dalam perkara yang menjeratnya, yaitu Wafid Muharram.

" Sejumlah enam kali saya jadi saksi untuk tersangka yang lain. Enam kali juga saya jadi saksi di persidangan. Semua cuma untuk menolong KPK membuka masalah ini seterang-terangnya, " kata Choel.

Walau sekian, KPK menampik permintaan Choel ksebagai juicetice collaborator. Menurut jaksa, Choel tidak penuhi kwalifikasi jadi saksi pelaku yang bekerja sama juga dengan KPK.

Menurut jaksa, permintaan jadi saksi pelaku mesti penuhi ketetapan yang ditata dalam Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Th. 2011 mengenai Perlakuan untuk Pelapor Tindak Pidana serta Saksi Pelaku yang Bekerja Sama dalam Perkara Tindak Pidana Spesifik.

Dalam SEMA itu, diterangkan kalau pemohon tidaklah pelaku paling utama dalam tindak pidana. Pemohon harus juga mengaku perbuatan serta memberi info jadi saksi.

Berdasar pada kesepahaman pada penegak hukum, ditata kalau saksi pelaku yaitu pelaku yang bersedia menolong aparat penegak hukum untuk kembalikan aset negara yang hilang dalam tindak pidana. Langkahnya, pemohon bisa memberi info serta info pada penegak hukum.

Menurut jaksa, Choel sesungguhnya nyaris penuhi kwalifikasi. Umpamanya, Choel bukanlah pelaku paling utama, berterus jelas serta mengaku terima uang Rp 7 miliar.

Tetapi, dalam persidangan Choel menyebutkan tidak tahu kaitan uang yang ia terima itu dalam aktivitas pengadaan barang serta layanan pada proyek pembangunan Pusat Pendidikan, Kursus, serta Sekolah Berolahraga Nasional (P3SON) di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Dalam persidangan, Choel menyebutkan kalau ia tidak tahu latar belakang proyek itu.

Oleh jaksa, Choel dituntut 5 th. penjara serta membayar denda Rp 500 juta subsider 6 bln. kurungan.

Menurut jaksa, Choel dapat dibuktikan memperkaya sendiri serta orang lain dalam proyek pembangunan Pusat Pendidikan, Kursus, serta Sekolah Berolahraga Nasional (P3SON) di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Dalam proyek itu, Choel juga dapat dibuktikan merugikan keuangan negara sebesar Rp 464, 3 miliar.

Menurut jaksa, pada 2009, Choel berbarengan dengan Menteri Pemuda serta Berolahraga Andi Alfian Mallarangeng turut mengarahkan sistem pengadaan barang/layanan proyek pembangunan P3SON di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Choel dimaksud turut dan memenangkan perusahaan spesifik dalam sistem lelang yang dikerjakan tanpa ada penuhi kriteria yang berlaku.

Choel serta Andi Mallarangeng dapat dibuktikan terima uang sebesar Rp 2 miliar serta 550. 000 dollar AS. Uang itu di terima lewat Choel dengan bertahap dari beberapa pihak.