BREAKINGNEWS.CO.ID – Penguatan nilai tukar rupiah terhadap  dolar  AS dan mayoritas  mata uang utama dunia lainnya terus berlanjut.  Pada perdagangan Kamis (11/8/2018) ini, rupiah sempat menembus angka Rp14.590 sekaligus menjadi penguatan tertinggi sejak tahun 2016.

Penguatan tersebut masih berpotensi  terus terjadi pada hari ini karena investor yang beralih ke mata uang negara berkembang, dengan rupiah menjadi salah satu yang paling dilirik.

Selain factor eksternal, mantan menteri keuangan Chatib Bisri juga  melihat peluang serupa bahwa rupiah masih akan terus melakukan  penguatan.” Ini gejala baik. Mudah2an momentum berlanjut. Hari ini BI akan mengumumkan angka transaksi berjalan. Jika angkanya baik mudah2an momentum penguatan berlanjut,”ujarnya melalui lini masa twitter @ChatibBasri, Kamis (11/8/2018).

Angka yang dibukukan rupiah tersebut menempatkan rupiah sebagai   mata uang terbaik di Asia, dan menunjukkan bahwa mata uang Garuda bisa kembali bangkit setelah terpuruk habis-habisan sepanjang tahun ini.

Pada sisi lain, dana asing telah banyak menarik aset Indonesia dalam beberapa pekan terakhir dan menjadi pertumbuhan yang kecepatannya di luar ekspektasi, ditambah dengan tingkat inflasi yang masih di kisaran 3% membuat permintaan pada rupiah bertambah.

Rupiah juga terdorong oleh pengenalan Non-Deliverable Forward di pasar domestiknya, dengan tujuan mengurangi permintaan dolar AS di pasar NDF dan menghindari adanya penimbunan dolar oleh warga domestik.

Senada dengan  Chatib, ekonom PT Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro mengatakan bahwa ada penguatan aksi beli pada obligasi dan saham Indonesia dari investor luar negeri, dengan banyaknya fundamental domestik yang menguat dan sudah diantisipasi membuat rupiah semakin perkasa. “Rupiah juga terdorong oleh ekspektasi pertumbuhan cadangan devisa yang diprediksi naik apda Oktober, data tersebut baru akan dirilis Rabu [7/11],” ujarnya.

Imbal hasil obligasi Indonesia untuk tenor 10 tahun anjlok 13 basis poin pada Selasa (6/11). Pada pekan lalu, imbal hasil tersebut sudah turun 35 basis poin dan menjadi penurunan terbesar sejak Juni 2018.

Laporan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih dari 5% dalam tujuh kuartal terakhir membuat Bank Indonesia menahan kenaikan suku bunga. Pertemuan selanjutnya akan kembali digelar oleh BI pada 15 November mendatang.