BREAKINGNEWS.CO.ID - Kontingen Indonesia finis di peringkat keempat klasemen akhir perolehan medali di Asian Games 2018. Atlet-atlet Tanah Air mendapatkan 31 medali emas, 24 perak dan 43 perunggu. Jumlah tersebut, jauh melibihi target yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu 12-16 medali emas. Namun, pada prosesnya, raihan medali didapat tak selalu dari cabang olahraga yang diprediksikan akan meraih emas. Hal itu disadari oleh Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot S. Dewa Broto. Salah satunya adalah pencak silat yang pada awalnya hanya menargetkan lima medali emas.

Akan tetapi, kenyataannya mereka mampu menjadi cabang olahraga penyumbang medali terbanyak dengan perolehan 14 medali emas dan 1 perunggu. Selain itu, juga ada dari cabang panjat tebing yang mendapatkan 3 emas, 2 perak dan 1 perunggu. Sebagai bentuk apresiasi kepada atlet, pelatih, dan official, pemerintah telah memberikan kucuran bonus. Total atlet penerima bonus adalah 199 atlet.

Adapun peraih medali emas diberikan bonus Rp1,5 miliar untuk nomor tunggal. Untuk pasangan atau berganda, meraih Rp1 miliar perorang dan Rp750 juta per orang untuk beregu. Bagi mereka yang mendulang emas, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimulyono, akan memberikan rumah tipe 36 seharga Rp70-100 juta.

Bagi peraih medali perak, bonus untuk atlet tunggal senilai Rp500 juta dan Rp400 juta untuk perak, dan Rp300 juta untuk perunggu. Sedangkan, untuk peraih perunggu mendapat Rp250 juta untuk tunggal, Rp200 juta untuk ganda, dan Rp150 juta untuk beregu. Bagi atlet tak meraih medali pun, mereka mendapatkan hadiah Rp20 juta.

Akan tetapi, Gatot mengungkapkan, pihaknya akan memberi peringatan kepada cabang olahraga yang tidak bisa tampil sesuai target di Asian Games 2018. Hal tersebut dilakukan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab kepada negara. Tentunya ada punishment (hukuman). "Kalau tidak cabor-cabor tersebut akan enak saja. Kemarin kami dari Kemenpora pada 31 juli 2018 mengadakan hitung-hitungan medali yang akan didapat," kata Gatot ketika ditemui selepas rapat di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jakarta, Senin (3/9/2018).

Hukuman tersebut gunanya, menurut Gatoto, untuk mengajarkan kepada cabor untuk jujur dengan apa yang mereka bisa. "Kami sedang mengatur peraturan tentang penghargaan dan punishment. Secepatnya akan kami rampungkan itu," beber Gatot.