MAJALENGKA - Salah seorang siswa bernama Anza Ibrahim asal Indramayu yang mengaku mengalami buta warna, dirinya menanyakan keluhannya itu kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat mengunjungi Majalengka, Jawa Barat dan melakukan pertemuan dengan para pengurus OSIS dan siswa berprestasi di daerah tersebut. Menurutnya, saat ini banyak jurusan di berbagai fakultas di beberapa perguruan tinggi mempermasalahkan soal buta warna itu. "Saya ini penderita buta warna Pak. Mengapa banyak banget jurusan yang melarang dan menghalangi buta warna untuk masuk?" tanya Anza kepada Jokowi, Kamis (24/5/2018).

Untuk menjelaskan hal tersebut secara rinci, Jokowi pun meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy yang berdiri di sebelahnya untuk memberikan tanggapan atas pertanyaan tersebut. Muhadjir pun tak menampik jika ada beberapa sekolah maupun perguruan tinggi yang mengharuskan para calon siswa atau calon mahasiswanya untuk melakukan tes warna. "Memang ada kebijakan dari sekolah maupun perguruan tinggi untuk bidang tertentu mensyaratkan harus yang tidak buta warna," ujarnya.

Namun, tak hanya tes warna, tes bidang lain juga diterapkan untuk masuk ke sekolah atau perguruan tinggi tertentu. Sebab, tes itu berhubungan langsung dengan bidang pekerjaan yang akan dijurus usai sekolah nanti. "Tapi sebenarnya tidak hanya itu, ada syarat lain, karena sudah lulus, berkaitan dengan pekerjaannya. Karena kalau tidak cakap nanti bisa membahayakan. Dan itu bukan Kemendikbud (yang menentukan) tapi ketentuan internasional," sambungnya.

Senada dengan Muhadjir, Jokowi pun menambahkan jika tes tersebut tidak hanya dilakukan di semua bidang jurusan. Artinya, masih banyak kesempatan lain yang tidak mengharuskan lulus tes warna. "Tapi tidak semua bidang. Artinya banyak bidang yang bisa dimasuki. Jadi tidak usah khawatir mengenai itu," ungkap mantan Gubernur DKI Jakarta itu.