BREAKINGNEWS.CO.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)  tetap menguat saat akhir transaksi perdagangan Selasa (5/5/2020), meski lansiran data yang dikeluar Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut pertumbuhan ekonomi  kuartal I turun tajam.

Rupiah ditutup menguat 20 poin atau 0,13 persen menjadi Rp15.080 per dolar AS dari sebelumnya Rp15.100 per dolar AS.  Menurut Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi meski pertumbuhan ekonomi kuartal pertama lebih rendah dari perkiraan, masih dapat diterima oleh pasar.

"Pemerintah dan Bank Indonesia dari awalsudah memberikan informasi bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal I-2020 kemungkinan akan mengalami penurunan akibat pandemi Virus Corona dan berulang-ulang memberikan informasi yang positif, akurat, dan transparan terhadap pasar, sehingga pada saat rilis PDB kuartal I hanya di 2,97 persen dan tidak sesuai dengan ekspektasi pasar, namun pasar tidak lagi kecewa," ujar Ibrahim.

Sentimen positif bagi nilai tukar lainnya yaitu menurunnya masyarakat yang terkena dampak COVID-19 dan meningkatnya jumlah orang yang sembuh dari wabah tersebut. Sedangkan inflasi April yang rendah di 0,08 persen dan tingginya tingkat pengangguran yaitu di atas dua juta jiwa, diperkirakan akan membuat pemerintah melonggarkan kebijakan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB). Pelonggaran PSBB diharapkan akan membantu roda perekonomian kembali berjalan secara normal sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

IHSG Menghijau

Hal serupa juga berlaku di lantai bursa, dimana Indeks Harga Saham Gabungan ditutup menguat 24,65 poin atau 0,54 persen ke posisi 4.630,13. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 bergerak naik 1,64 poin atau 0,24 persen menjadi 690,96. "Hari ini IHSG ditopang oleh data PDB kuartal satu. Meskipun di bawah konsensus tapi masih positif, beda dengan negara besar lain seperti China dan Amerika yang pertumbuhan ekonominya di kuartal satunya negatif," kata Mino, dari Indopremier Sekuritas Mino.


Dibuka menguat, IHSG terus berada di teritori positif hingga penutupan perdagangan saham. Secara sektoral, delapan sektor meningkat dengan sektor properti naik paling tinggi yaitu 2,19 persen, diikuti sektor konsumer dan sektor pertanian masing-masing 1,82 persen dan 1,08 persen.

Sedangkan dua sektor terkoreksi yaitu sektor industri dasar dan sektor infrastruktur masing-masing sebesar 0,51 persen dan 0,09 persen. Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau net foreign sell sebesar Rp429,94 miliar.