BREAKINGNEWS.CO.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI)  ditutup menguat seiring kenaikan bursa saham regional Asia. Pada akhir perdagangan Rabu (19/2/2020), IHSG ditutup menguat 41,83 poin atau 0,71 persen ke posisi 5.928,79. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 8,12 poin atau 0,85 persen menjadi 964,39.

"Penguatan IHSG hari ini lebih ke 'technical rebound'. Besok IHSG diprediksi akan bergerak mixed dan mengalami aksi profit taking seiring pasar yang sudah mengantisipasi sentimen suku bunga BI yang akan diumumkan besok," kata analis Panin Sekuritas William Hartanto di Jakarta, Rabu (19/2).

Dibuka menguat, IHSG nyaman berada di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

Secara sektoral, sembilan sektor meningkat di mana sektor aneka industri naik paling tinggi yaitu 1,93 persen, diikuti sektor industri dasar dan sektor manufaktur masing-masing 1,1 persen dan 0,4 persen. Sedangkan satu sektor terkoreksi yaitu sektor properti sebesar 0,07 persen.

Seperti ditulis laman Antaranews.com, penutupan IHSG diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau "net foreign buy" sebesar Rp106,62 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 381.217 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 6,6 miliar lembar saham senilai Rp6,2 triliun. Sebanyak 207 saham naik, 175 saham menurun, dan 145 saham tidak bergerak nilainya.

Sementara itu, bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 206,89 poin atau 0,89 persen ke 23.400,7, indeks Hang Seng menguat 125,6 poin atau 0,46 persen ke 27.655,8, dan indeks Straits Times menguat 16,58 poin atau 0,52 persen ke 3.213,21.

Rupiah

Sementara itu, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup melemah seiring kekhawatiran pasar terhadap dampak wabah Virus Corona baru atau COVID-19.

Rupiah ditutup melemah tipis 1 poin atau 0,01 persen menjadi Rp13.695 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp13.694 per dolar AS.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Rabu, mengatakan pelemahan rupiah masih dipicu kekhawatiran pasar terhadap dampak Virus Corona baru atau COVID-19.

"Pasar mengantisipasi potensi perlambatan ekonomi karena Virus Corona. Ini memberi sentimen negatif ke rupiah," ujar Ariston.