BREAKINGNEWS.CO.ID - Kinerja Komjen Firli Bahuri bersama KPK patut diapresiasi karena sudah berhasil menangkap mantan Sekretaris MA Nurhadi yang buron selama 40 hari. Indonesia Police Watch (IPW) menilai kerja berat masih membentang dihadapan jenderal bintang tiga Polri yang menjadi Ketua KPK itu. 
 
IPW melihat setidaknya masih ada lima point kerja berat Firli dalam waktu dekat yang perlu dituntaskanya. "Pertama, Firli dan KPK harus segera memastikan isu bahwa Harun Masiku yang juga buronan KPK sudah meninggal dunia atau tidak, dengan cara memanggil keluarganya maupun pengacaranya. Jika ternyata Harun masih hidup, tugas Firli dan KPK segera menciduknya, hidup ataupun mati," ujar Ketua Presidium Neta S Pane dalam siaran persnya kepada Breakingnews.co.id, Selasa (2/6/2020).

Kedua, lanjut Neta, Firli dan KPK harus segera menangkap Samin Tan yang sudah cukup lama buron, dalam kasus pemberian gratifikasi kepada anggota DPR Eni Maulani Saragih, dalam proyek tambang batu bara di Kementerian ESDM.

Ketiga, lanjutnya, Firli dan KPK harus segera menangkap bos Gajah Tunggal. "KPK sudah menetapkan pengusaha Sjamsul Nursalim dan istri sebagai tersangka," kata Neta.
 
Dalam kasus ini, keduanya ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) pada 10 Juni 2019. Semula bos Gajah Tunggal itu disebut-sebut bersembunyi di Singapura. "Namun sumber IPW di KPK menyebutkan bahwa pasangan suami istri itu sejak beberapa bulan terakhir berada di Shanghai, Cina," terang Neta.

Selanjutnya IPW menggarisbawahi Firli dan KPK harus segera melanjutkan pemeriksaan terhadap sejumlah tokoh yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dan bila perlu menahannya. Di antaranya, Irfan Kurnia Saleh yang diduga terlibat korupsi dalam pengadaan helikopter Agusta Westland 101 di TNI AU. 
 
Adapun yang ke lima, Firli dan KPK harus segera memastikan status sejumlah tokoh yang pernah diperiksa sebagai saksi dalam dugaan kasus korupsi, seperti Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, yang terakhir diperiksa KPK pada 29 Desember 2019. "Firli harus memberi kepastian hukum, apakah Muhaimin akan dijadikan sebagai tersangka atau pemeriksaannya sudah tuntas sebatas saksi dalam kasus dugaan korupsi di Kementerian PUPR," ujarnya.

Semua persoalan ini ditegaskan Neta  perlu dituntaskan Firli agar ada kepastian hukum sehingga KPK tidak menyandera nasib seseorang. Sikap kepastian hukum ini akan membuat publik yakin bahwa kinerja Firli sangat jauh berbeda dan lebih baik dari kinerja KPK era sebelumnya. "Sebagai jenderal polisi yang memimpin KPK, Firli harus menunjukkan bahwa dia bisa membawa lembaga anti rasuah itu lebih Profesional, Modern dan Terpercaya (Proomoter)," pungkasnya.