BREAKINGNEWS.CO.ID - Mata uang rupiah tercatat pada posisi Rp14.544 rupiah pada sore waktu tutup perdagangan Jumat (23/11/2018), atau menguat sebesar 36 poin dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.580 per dolar AS.

Analis pasar dan keungan menyebut, factor eksternal lebih menjadi factor dominan catatan positif ini, menyusul adanya sejumlah sentiment negative pada siang hari yang sempat menghambat laju penguatan mata uang garuda ini.

Menurut analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada, imbas kenaikan mata uang euro dimanfaatkan rupiah untuk bergerak naik. Penguatan euro itu terjadi seiring adanya persetujuan antara Inggris dan Uni Eropa terkait dengan Brexit.

Di pasar global kurs dolar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya, karena investor percaya bahwa Inggris dan Uni Eropa (UE) akan mencapai kesepakatan sebelum Brexit berlaku.

Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan pada Kamis (22/11) sore bahwa dia akan melakukan "segala yang mungkin" untuk memberi warga Inggris kesepakatan Brexit yang telah "dalam genggaman."

Inggris dan Uni Eropa pada prinsipnya setuju untuk teks yang menetapkan hubungan masa depan mereka sebelum pertemuan puncak pada Minggu (25/11/2018).

 Mata uang euro dan pound melonjak menyusul berita tersebut, yang menempatkan dolar AS berada di bawah tekanan.

Di sisi lain, ada pula sejumlah kalangan yang menilai penguatan euro hanya sementara karena mempertimbangkan arah kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB). "ECB October Meeting Minutes yang akan memberikan indikasi arah kebijakan moneter ECB terutama dalam membantu perbankan untuk menopang pertumbuhan ekonomi Zona Euro," ujar Reza.

Penguatan yang terjadi hari ini, juga meneruskan catatan  positif yang juga dibukukan sehari sebelumnya.  Pada perdagangan Kamis itu, rupiah menguat  menyusul laporan hasil lelang Surat Utang Negara (SUN). "Rupiah menguat terhadap dolar AS seiring hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) yang cukup baik, sehingga menjadi sentimen positif bagi rupiah," kata Ekonom Samuel Sekuritas, Ahmad Mikail.

 Ia mengemukakan lelang SUN pada Rabu (21/11), pemerintah menyerap senilai Rp15 triliun dari total penawaran masuk sebesar Rp41,62 triliun. Ia menambahkan apresiasi rupiah juga terbantu oleh sentimen eksternal mengenai kemungkinan terjadinya kompromi antara Italia dan Komisi Uni Eropa untuk memutuskan besaran defisit belanja negara Italia tahun depan.