BREAKINGNEWS.CO.ID – Mantan Menteri Luara Negeri Inggris, Boris Johnson menganalogikan keinginan Inggris yang ingin keluar dari Uni Eropa (Brexit) seperti rencana bunuh diri. Di kolom salah satu surat kabar yang terbit pada Minggu, (9//9/2018), Johnson menyebut Perdana Menteri Inggris saat ini, Theresa May, sedang "mengenakan rompi bunuh diri pada konstitusi kemudian menyerahkan pemicunya kepada Uni Eropa". Johnson juga mengungkap kepergian Inggris dari Uni Eropa sebagai "penghinaan" yang membuka "diri kita pada pemerasan politik abadi".

"Kita sudah mengenakan rompi bunuh diri pada konstitusi Inggris - kemudian menyerahkan pemicunya pada [pemimpin negosiasi Uni Eropa] Michael Barnier," tulis Johnson, seperti diberitakan Reuters. Kata-kata Johnson, terutama yang menyinggung rompi bunuh diri, mendapatkan kecaman dari anggota partai konservatif.

Menteri Luar Negeri Inggris untuk Eropa dan Amerika, Alan Duncan menuturkan "salah satu dari momen paling menjijikan dalam politik modern Inggris". "Buat Boris yang menuturkan pandangan perdana menteri seperti pelaku bom bunuh diri terlalu berlebihan," ucap Duncan pada akun Twitter-nya.

Pada Juli lalu Johnson menyatakan mengundurkan diri sehari setelah Menteri urusan Brexit David Davis melakukan hal yang sama. Johnson sempat dinilai sebagai tokoh yang seharusnya menggantikan May. Sebelum mengundurkan diri Johnson sempat menjabat selama dua tahun di bawah kendali May. Pengunduran dirinya dianggap sebagai bentuk protes pada strategi negosiasi May yang dinilai lembek.

"Itu berarti kita adalah negara pengikut," ucap Johnson dalam kolom. Mengundurkan diri Johnson telah menulis untuk sejumlah kolom surat kabar. Isinya mendorong para konservatif menekan May agar membuang proposal saat konferensi partai digelar akhir bulan ini. Tulisan Johnson keluar sehari setelah dia dan istrinya, Marina Wheeler, berencana bercerai.

Sebelumnya, Mantan menteri luar negeri Inggris, Boris Johnson, mengumumkan dirinya telah berpisah dengan sang istri, Marina Wheeler, dan sedang dalam proses bercerai. "Beberapa bulan lalu, setelah 25 tahun pernikahan, kami berdua memutuskan bahwa ini adalah jalan terbaik untuk berpisah. Kami kemudian sepakat bercerai dan prosesnya sedang berjalan," bunyi pernyaataan bersama Johnson dan Wheeler, Jumat (7/9).

Kepada Reuters, mantan penasihat Johnson mengonfirmasi bahwa pernyataan bersama itu telah dikirim Johnson ke kantor berita Association Press. Reuters mencoba meminta konfirmasi secara langsung dari Johnson melalui telepon, tapi mantan Wali Kota London itu belum merespons. Johnson adalah salah satu tokoh yang paling dikenal dalam politik Inggris berkat tampilan dan gaya bicaranya yang nyentrik. Para pendukung Brexit menilai Johnson yang seharusnya menggantikan Perdana Menteri Theresa May.