BREAKINGNEWS.CO.ID- Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), Boni Hargens mengatakan, hoaks atau kabar bohong telah membanjiri ruang sosial. Para ahli kata Boni, menyebut, ini ciri era baru yang disebut post-truth society. 
 
"Suatu masyarakat yang enggan mengakui standar lama dalam menafsir kebenaran dan cenderung secara subyektif "merumuskan" kebenaran parsial yang menabrak kesepakatan sosial tentang semua hal, termasuk tentang tesis moral itu sendiri," ujar Boni di Gado-Gado Boplo Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (11/1/2019). 
 
Dalam masyarakat kata Boni, pasca-fakta ini politik menjadi ruang berkecamuknya kabar bohong dan kabar benar.  Narasi baik dan buruk, intensi positif dan intensi negatif.
 
"Para politisi melihat kondisi ini sebagai peluang untuk meraih kekuasaan. Logika curang dan strategi kebohongan menjadi trend baru yang dibungkus demgan istilah "negative campaign" yang sebetulnya dalam praksis menjadi "black campaign" alias kampanye hitam," katanya. 
 
Dikatakan Boni, semua dianggap wajar karena politik demokrasi elektoral dipahami sebagai pertarungan menang-kalah, bukan benar-salah. Logika pragmatisme menjadi arus utama.
 
"Hoaks tentang tujuh kontainer surat suara yang dihembuskan lewat akun medsos kader Demokrat, Andi Arief, saat ini menambah rumit ruang politik tetapi tetap saja dinikmati sebagai pertunjukan wajar oleh para politisi pecundang," tegasnya.