BREAKINGNEWS.CO.ID- Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), Boni Hargens menegaskan, pelaku penyebar hoax akan berhenti apabila kekuasaan yang diperjuangkannya berhasil diraih. 
 
"Sebagai skenario politik, hoaks tetaplah sebuah strategi. Pelaku hanya berhenti ketika kekuasaan diraih. Karena tujuan dari semua itu adalah kekuasaan. Sama seperti agama yang didagangkan atau sentimen etnik yang dipolitisir," ujar Boni di Gado-Gado Boplo Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (11/1/2019). 
 
Boni berharap kepada para pemilih supaya makin sadar melihat rancangan jahat dibalik hoaks yang terus berkembang subur. Hanya dengan begitu, pemilu 2019 dapat menghasilkan pemimpin yang tepat dan baik untuk rakyat Indonesia.
 
Boni menegaskan, pemilih tidak cukup mengamati adegan dan narasi yang muncul di permukaan tetapi harus menggali informasi tentang masa lalu para kandidat dan para pendukungnya. "Kita tidak ingin demokrasi menjadi kuda Troya yang menghantar para begundal dan genderuwo menjadi pemimpin di negeri ini," tegasnya. 
 
Diketahui, Subdit Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya menangkap MIK (38), seorang berstatus guru SMP pelaku penyebar informasi ihwal tujuh unit kontainer berisi surat suara tercoblos. 
 
MIK membuat sendiri pernyataan yang berisi pesan bohong itu. “Pelaku mengunggah kalimat yang dibuat sendiri di akun Twitter miliknya @chiecilihie80,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Jumat (11/1/2019). 
 
Kalimatnha berbunyi “@dahnilanzar Harap ditindaklanjuti, informasi berikut: DI TANJUNG PRIOK ADA 7 KONTAINER BERISI 80JT SURAT SUARA YANG SUDAH DI COBLOS. HAYO PADI MERAPAT PASTI DARI TIONGLOK TUH.” 
 
Pelaku mengunggah pada Rabu, 2 Januari 2019 pukul 00.04 WIB, cuitan di-retweet satu akun dan di-likes dua akun. Dia juga melampirkan tangkapan layar chat WhatsApp yang isinya berisi permintaan untuk memviralkan informasi tersebut. 
 
“Pelaku mengaku tangkapan layar itu dia dapatkan dari Facebook, namun dia tidak bisa membuktikan,” tambah Argo. Tujuan pelaku membuat kalimat dan mengunggahnya adalah memberitahukan kepada para tim pendukung Prabowo-Sandiaga tentang 
informasi surat suara itu. 
 
Polisi menangkap MIK pada Minggu (6/1/2019) sekitar pukul 22.30 WIB di kediamannya yang berada di daerah Metro Cendana Kelurahan Kebon Dalam, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon, Banten. Pelaku berprofesi sebagai guru SMP. 
 
Dalam penangkapan, tersebut polisi menyita satu buah KTP atas nama MIK, S.PD, satu unit telepon genggam merek Xiaomi Redmi 4X warna hitam, satu buah SIM Card Indosat dengan Nomor 085624855469. 
 
Lalu, satu buah akun twitter dengan nama akun @chiecilihie80, tiga lembar cetakan tangkapan layar foto profil akun twitter dengan nama akun @chiecilihie80, satu satu akun facebook dengan nama akun chiecilihie dan empat lembar cetakan tangkapan layar foto profil akun Facebook chiecilihie
 
Dalam kasus tersebut tersangka dikenakan Pasal 28 ayat (2) juncto Pasal 45A ayat (2) Undang-undang RI nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan/ atau denda paling banyak Rp1 miliar dan/atau Pasal 14 dan Pasal 15 Undang-undang RI nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, dengan pidana penjara paling singkat dua tahun dan paling lama 10 tahun.