BREAKINGNEWS.CO.ID- Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), Boni Hargens menegaskan bahwa pihaknya melihat ada persoalan lebih besar dari sekedar pemilihan Presiden dan anggota DPR pada Pemilu 17 April 2019 nanti. 
 
Menurut Boni, pasca runtuhnya rezim Soeharto tahun 1998 yang berkuasa selama 32 tahun, perdebatan terbesar masa reformasi terkait arah keberadaan Indonesia. 
 
"Setelah 1998, perdebatan terbesar kita adalah Indonesia mau dibawa ke mana. Dan kita sudah sukses. Pada banyak level kita sukses membangun demokrasi," ujar Boni di Ammarin Restaurant, Plaza Sentral GF, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 47, Karet Semanggi, RT.5/RW.4, Karet Semanggi, Kota Jakarta Selatan, Senin (15/4/2019). 
 
Pasca orde baru kata Boni, munculnya kekuatan-kekuatan masyarakat sipil, media yang bebas, NGO dan segala macam kekuatan yang bisa dilihat. Boni menambahkan, pranata politik juga terbangun secara luar biasa meyakinkan. 
 
"Kita melihat supremasi sipil kita juga mulai bertumbuh dan menjadi kuat dengan kesadaran yang begitu tinggi dari pihak TNI maupun institusi lain polri di dalam mendukung demokrasi sipil," tegasnya. 
 
Akan tetapi kata Boni, menjelang pemilihan Presiden 2019, muncul satu fenomena atau kekuatan-kekuatan politik yang kembali mengimajinasi kebenaran orde baru. Selain itu, muncul kekuatan politik yang ingin membelah masyarakat dengan narasi-narasi yang provokatif. 
 
"Membelah kelompok islam dari non islam, membelah etnik tertentu dengan etnik yang lain, membangun cerita-cerita yang membangun integrasi sosial kemasyarakatan, kebangsaan kita menjadi sebuah masalah," katanya. 
 
Penentuan Sejarah
 
Boni pun berpesan kepada para pemilih bahwa pemilu 2019 merupakan momentum terbesar untuk menentukan sejarah bangsa Indonesia ke depan. Sebab kata Boni, pihaknya tak ingin negara Indonesia dikendalikan oleh kekuatan yang mau kembali membesarkan orde baru. 
 
"Apakah kita ingin bangsa ini dikendalikan oleh kekuatan yang ingin merongrong Pancasila, ingin merusak konsep keindonesiaan kita yang Bhineka Tunggal Ika. Atau kita mau pembangunan dan proses berbangsa san bernegara ini terus maju ke depan menjadi sebuah bangsa yang besar dan ini pilihan ada di tangan kita," katanya. 
 
Boni berharap para pemilih lebih rasional dan bijaksana menentukan pilihan dengan tidak asal memilih para calon baik Presiden maupun Caleg. 17 April kata Boni, momentum akal sehat yang harus menang. 
 
"Pemilihan 17 April adalah titik dimana seluruh rakyat Indonesia diajak bersikap secara bijaksana, bersikap secara rasional untuk menentukan siapa presidennya, siapa wakilnya di DPR," tegasnya.  
 
"Karena ini bukan perkara kecil. Ini soal Indonesia ini masih bertahan atau tidak ke depan. Maka jangan pernah meremehkan isu-isu yang muncul, jangan pernah meremehkan mobilisasi, hoax, fitnah. Karena itu adalah kekuatan yang bisa menghancurkan peradaban kita," tukasnya.