BREAKINGNEWS.CO.ID – Para pejabat keamanan Filipina mengatakan bahwa, dua bom meledak di luar sebuah gereja Katolik Roma di sebuah pulau di Filipina Selatan di mana aksi terror gerilyawan Muslim sangat aktif, menewaskan sedikitnya delapan orang selama Misa Minggu.

"Bom pertama meledak di atau dekat katedral Jolo di ibukota provinsi, diikuti dengan ledakan kedua di luar kompleks ketika pasukan pemerintah menanggapi serangan itu," kata pejabat keamanan seperti dilansir dari ABC News, Minggu (27/1/2019). Laporan polisi dan militer mengatakan setidaknya delapan orang tewas, termasuk lima tentara dan tiga warga sipil. Sejumlah orang juga dilaporkan mengalami luka-luka.

Pulau Jolo sudah lama terganggu oleh kehadiran gerilyawan Abu Sayyaf, yang dimasukkan dalam daftar hitam oleh Amerika Serikat (AS) dan Filipina sebagai organisasi teroris karena bertahun-tahun melakukan pemboman, penculikan, dan pemenggalan. Tidak ada yang segera mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Serangan itu terjadi hampir satu pekan setelah Muslim minoritas di negara yang mayoritas penduduknya beragama Katolik itu mendukung wilayah otonom baru di Filipina selatan dengan harapan mengakhiri hampir lima dekade pemberontakan separatis yang telah menewaskan 150 ribu orang. Meskipun sebagian besar wilayah Muslim menyetujuinya, pemilih di provinsi Sulu, tempat Jolo berada, menolaknya. Provinsi itu adalah rumah bagi faksi pemberontak saingan yang menentang perjanjian itu serta kelompok Abu Sayyaf, yang bukan bagian dari proses perdamaian.

Pemerintah Barat menyambut baik pakta otonomi itu. Mereka khawatir bahwa sejumlah kecil gerilyawan terkait Negara Islam (IS) dari Timur Tengah dan Asia Tenggara dapat menjalin aliansi dengan pemberontak Filipina dan mengubah wilayah selatan Filipina menjadi tempat berkembang biak bagi para ekstremis.