BREAKINGNEWS.CO.ID - Salah satu keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 menggugat The Boeing Company sebagai produsen pesawat Boeing 737 MAX 8. Adalah keluarga dari korban yang bernama Dr. Rio Nanda Pratama menggugat Boeing melalui Firma hukum Colson Hicks Eidson dan BartlettChen LLC.

"Kami telah mengajukan gugatan terhadap The Boeing Company di pengadilan Circuit Court of Cook County, Illinois, Amerika Serikat. Gugatan ini kami ajukan atas nama klien kami yaitu orang tua dari alm. Dr. Rio Nanda Pratama yang tewas ketika pesawat Boeing 737 MAX 8 jatuh ke laut," kata Curtis Miner dari Colson Hicks Eidson, seperti dikutip dari Antara.

Rio Pratama adalah seorang dokter muda yang ikut menjadi salah korban jatuhnya pesawat Lion Air dalam perjalanan pulang dari sebuah konferensi di Jakarta. Rio juga hendak menikah pada tanggal 11 Nopember 2018.

Terkait dengan investigasi kecelakaan ini, Curtis Miner menyatakan bahwa sesuai dengan perjanjian internasional, pihak penyelidik dari Indonesia dilarang menentukan siapa yang bertanggung jawab atau siapa yang bersalah, dan hanya diperbolehkan untuk membuat rekomendasi keselamatan untuk industri penerbangan dimasa depan.

"Inilah sebabnya mengapa tindakan hukum atas nama keluarga korban harus dilakukan. Investigasi oleh lembaga pemerintah biasanya tidak akan memutuskan siapa yang bersalah dan tidak menyediakan ganti rugi yang adil kepada para keluarga korban. Inilah pentingnya gugatan perdata pribadi dalam tragedi seperti ini," kata Curtis.

Ayahanda dari mendiang Dr. Rio Nanda Pratama menuturkan alasan pengajuan gugatan tersebut. "Semua keluarga korban ingin mengetahui kebenaran dan penyebab tragedi ini, kesalahan yang sama harus dihindari ke depannya dan pihak yang bertanggung jawab harus dibawa ke pengadilan. Saya menuntut keadilan untuk putra saya dan semua korban jiwa dalam kecelakaan tersebut," katanya.

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono mengatakan, kecelakaan Pesawat Lion Air PK-LQP dengan kode penerbangan JT 610 menjadi penerbangan terburuk kedua di Indonesia setelah insiden kecelakaan dari maskapai penerbangan Garuda Indonesia di Medan yang terjadi tahun 1997. Hasil tersebut dilihat dari jumlah angka korban jiwa dari insiden yang ditimbulkan.