BREAKINGNEWS.CO.ID  Catatan terbaru yang diperoleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)  menyebutkan jumlah korban jiwa akibat banjir di Sulsel untuk sementara  mencapai sekitar 20 orang.

"Laporan rinci dan lengkap belum saya terima. Namun laporan sementara yang masuk mengatakan bahwa  sekitar 20 orang meninggal dunia, belasan ribu yang terdampak," kata Kepala BNPB Doni Monardo di Jakarta,  Kamis (23/1/2019).

Menurut Doni, lembaganya sudah mengirimkan tim pada Rabu (23/1) malam untuk melakukan penilaian. “Hari ini saya juga akan kesana, selain juga siang ini sudah ada bantuan operasional bagi kabupaten yang risikonya paling besar," katanya.

Mengenai pengelolaan bantuan, ia mengatakan akan berkoordinasi dengan instansi terkait. Terutama untuk daerah yang kerusakannya berat, seperti jembatan dan jalan.

Ia menyebutkan BNPB sudah melaporkan kondisi bencana banjir di Sulsel. "Dilaporkan secara umum saja dan saya izin akan ke sana siang ini," kata mantan Komandan Paspampres itu.

Ia menyebutkan BNPB sudah mengeluarkan dana untuk penanganan banjir di empat kabupaten di Sulsel.  "BNPB sudah mengeluarkan masing-masing Rp250 juta untuk empat kabupaten yang terdampak paling besar," katanya.

Empat kabupaten itu adalah Jeneponto,  Gowa,  Makassar,  Maros.  Ia menyebutkan akan ada lagi dana yang disalurkan tapi tergantung dari penilaian tim  di sana. Tak hanya pendanaan, pihaknya juga akan menghitung total kerugian bencana banjir yang jadi peristiwa terbesar dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Sementara itu mengenai penjagaan alat deteksi dini bencana oleh TNI,  Doni mengatakan itu perintah Presiden. 

"Perlu ada sistem terintegrasi untuk pengamanan,  kadang sudah diadakan tapi lantas ilang.  Yang ilang kadang kadang sederhana seperi aki, tapi ini mengakibatkan barang tidak berfungsi. Jadi kalau ada bencana alam tidak bisa dideteksi dan korban yang ditimbulkan itu sangat besar," katanya.

Ia menyebutkan BNPB akan bekerja sama dengan lembaga yang bertanggung jawab dalam pengadaan alat itu seperti BMKG, BIG,  BPPT,  LIPI dan lainnya yang ditugaskan menyiapkan alat itu.  "Kami putuskan dimana alat ini ditempatkan, kemudian bagaimana peraturan pengamannya," katanya.