JAKARTA –  Tidak kurang dari 39 mahasiswa yang kuliah  sejumlah di Perguruan Tinggi Indonesia  terpapar paham radikalisme. Hal tersebut  disampaikan Kelapa BIN (Badan Intelejen Negara) saat  menjadi pembicara kunci dalam Kongres IV BEM PTNU se-Nusantara di Semarang, Sabtu (29/4/2018).

Seperti dikutip dari laman Antaranews.com, kondisi tersebut didasarkan atas penelitian BIN yang dilakukan pada 2017 lalu. Menurut mantan Wakapolri ini, 15 provinsi di Indonesia menjadi perhatian pergerakan radikalisme itu.

Dari penelitian itu juga diketahui tiga perguruan tinggi di Indonesia mendapat perhatian karena kondisinya bisa menjadi basis penyebaran paham radikal.

Namun, Gunawan tidak mengungkapkan identitas ketiga perguruan tinggi itu. Berdasarkan penelitian itu, juga diketahui peningkatan paham konserfatif keagamaan.

Dari survei yang dilakukan diperoleh data 24 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar SMA setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam. "Kondisi ini mengkhawatirkan karena mengancam keberlangsungan NKRI," katanya.

Kondisi itu, lanjut dia, juga diperkuat dengan keterlibatan seorang pemuda lulusan salah satu PTN yang terlibat dalam teror di Jakarta beberapa waktu lalu. "Ini semakin menegaskan bahwa lingkungan kampus sudah menjadi target bagi kelompok radikal untuk memobilisasi calon teroris baru.

Oleh karena itu, lanjut dia, mahasiswa harus mampu memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Fenomena radikalismen di kalangan mahasiswa sangat besar dari aspek potensi ancaman.

Ia menggarisbawahi peran strategis mahasiwa untuk mewujudkan masyarakat yang madani.

Sejarah, lanjut dia, mencatat gerakan mahasiswa yang menjadi motor perubahan di Indonesia. "Jangan mahasiswa justru diperalat oleh kelompok radikal untuk memecah belah tatanan masyarakat yang kita bangun," katanya.