JAKARTA - Dorongan seksual dipengaruhi oleh hormon seks, keadaan kesehatan tubuh, faktor psikis, dan pengalaman seksual sebelumnya. Kalau faktor itu mendukung, maka dorongan seksual baik atau kuat. Tetapi kalau faktor tersebut tidak mendukung, apalagi menghambat, maka dorongan seksual juga terhambat atau lemah.

Contohnya, orang yang pengalaman seksnya selalu tidak menyenangkan, dorongan seksualnya tertekan dan cenderung tidak ingin melakukan lagi. Orang yang selalu sibuk dengan pekerjaan atau perhatiannya tercurah kepada sesuatu hal, dorongan seksualnya bisa tertekan dan seolah tak tertarik aktivitas/hubungan seksual. Keadaan inilah yang mungkin dialami oleh pria. Maka dorongan seksual istri tertekan dan hubungan seksual dilakukan dengan frekuensi rendah menurut ukurannya.

Di pihak lain, istri mungkin merasa lebih santai karena tinggal di rumah, sebab tidak memiliki kesibukan. Keadaan yang lebih santai pasti mengurangi beban fisik dan psikis, lalu berpengaruh positif bagi dorongan seksual. Maka mudah dimengerti kalau ia merasakan dorongan seksualnya kuat, dan menginginkan hubungan seksual yang lebih sering.

Sungguh sangat disayangkan jika suami hanya bereaksi dengan menjelaskan bahwa hubungan seksual bukan satu-satunya yang membahagiakan perkawinan. Penjelasan itu benar. Tetapi dalam keadaan kritis, ketika isteri sudah mengeluh mengenai ketidakharmonisan kehidupan seksual mereka, bukan penjelasan seperti itu yang diharapkan.

Seharusnya suami segera menyadari ketidakharmonisan itu dan ambil langkah mengatasinya. Tapi tampaknya dia seolah tidak memperhatikan tuntutan seksual isterinya, dan tetap tenggelam dalam kenikmatannya sendiri. Melihat reaksi seperti ini, tidak berlebihan kalau ia digolongkan suami egois, yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri tanpa peduli kebutuhan isterinya.

Dalam keadaan suami tak dapat memenuhi tuntutan seksualnya, dapat dimengerti kalau istri melakukan hubungan dengan pria lain. Terlepas dari benar atau tidak tindakan itu, hubungan seks dengan pria lain itu dapat dimengerti. Kalau kini ia merasa sulit menghentikan hubungan seksual yang memuaskan itu, tentu juga dapat dimengerti. Siapa pun tidak ingin meninggalkan sesuatu yang menyenangkan dan kembali ke keadaan yang tidak menyenangkan. Jadi dapat dimengerti pula kalau si istri tidak rela melepaskan kepuasan yang telah dialaminya bersama pria lain.

Keadaan akan berbeda dan tidak lagi menjadi masalah kalau kehidupan seksual suami berubah, dan bisa memberi kepuasan kepada isterinya. Berarti, suami harus menyadari masalah seksual isterinya, yang berkaitan dengan frekuensi hubungan seksual. Berarti pula masalah itu hanya dapat diatasi bersama.