BREAKINGNEWS. CO.ID -  Bank Indonesia menyebut  sepanjang  tahun 2019 ini, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh dalam kisaran  5,1 hingga 5,2 persen. Angka  konservatif itu keluar dengan mempertimbangkan kondisi eksternal antara lain ekonomi global yang cenderung melambat.

"Kondisi ekonomi global makin tidak ringan, bahkan di banyak negara terjadi perlambatan, perang dagang meluas. Dampak dari itu semua, terjadi koreksi pertumbuhan ekonomi di berbagai negara," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo di Denpasar, Bali, Jumat (23/8/2019).

Seperti dikutip Antaranews.com, Indonesia relative  lebih beruntung karena bisa tumbuh  di  angka 5,05 persen. "Angka 5 persen ini apakah masih bisa lebih tinggi? Tentunya kita harus melihat realistis sepanjang upaya telah dilakukan harapan kita masih berada di kisaran 5,1-5,2 persen untuk tahun ini dan tahun depan," ucapnya.

Pihaknya tidak memungkiri berbagai upaya untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi bukan perkara mudah karena dipengaruhi berbagai factor. "Banyak faktor yang mempengaruhi di sini, di antaranya faktor pendapatan masyarakat cenderung menurun sehingga menahan konsumsi masyarakat untuk tumbuh. Permintaan dunia juga melambat yang menyebabkan sektor manufaktur melambat, investasi juga mengalami perlambatan," ucapnya.

Jika dibandingkan negara-negara lain yang masuk dalam G 20, lanjut dia, Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi 5 persen, sejatinya masih masuk dalam negara dengan kategori pertumbuhan ekonomi tinggi.

"Sampai akhir 2019 akan sulit mendorong pertumbuhan hingga 5,2 persen, paling 5,1 persen itu pun sudah berat. Tetapi yang penting kita sudah mengalahkan negara-negara emerging yang jauh di bawah. Artinya, menjaga pertumbuhan ekonomi harus terus dilakukan," ujarnya.

Apresiasi Rupiah

Sementara itu,  nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat sore terapresiasi, masih terimbas kebijakan Bank Indonesia yang memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan atau BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR).

Rupiah menguat 22 poin atau 0,15 persen menjadi Rp14.213 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.235 per dolar AS.

" Efek penurunan suku bunga acuan oleh BI sudah terlihat, walaupun tidak terlalu signifikan penguatannya," ujar  Direktur Utama Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi.