BREAKINGNEWS.CO.ID – Bank Indonesia menyebut ruang penguatan rupiah masih terbuka lebar menyusul kondisi ekonomi yang terhitung sangat stabil. Potensi penguatan itu sangat mungkin terjadi karena saat ini nilai mata uang garuda dianggap masih terlalu rendah atau undervalued.

Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo ruang penguatan untuk mata uang Garuda yang terbuka lebar itu juga didorong oleh potensi tak akan banyaknya dana yang keluar dari Indonesia menyusul adanya sinyalemen Bank Sentral AS Federal Reserve yang "memotong" perkiraan frekuensi kenaikan suku bunganya tahun ini.

Apalagi sebelumnya pada akhir Desember lalu BI telah juga memperkirakan  bahwa The Federal Reserve akan menaikkan suku bunganya menjadi hanya dua kali dari perkiraan sebelumnya sebanyak tiga kali.

Selain itu, sebagai otoritas moneter, Perry berjanji akan mengoptimalkan langkah stabilisasi pasar tahun ini dengan berbagai instrumen seperti intervensi yang terukur, barter valas (swap), maupun Domestik- NDF (DNDF).

“Faktor lain yang mendorong hal tersebut adalah langkah kebijakan BI yang cukup kredibel, baik dari sisi pemerintah disamping juga defisit transaksi berjalan yang lebih rendah," kata Perry di Jakarta Rabu (2/1/2018).

Untuk tahun 2019 ini, BI optimistis defisit transaksi berjalan Indonesia akan menurun menjadi 2,5 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dari kisaran tiga persen PDB di 2018.

 

Sepanjang 2018, ketika tekanan eksternal sedang tinggi menerpa pasar keuangan Indonesia, rupiah terdepresiasi 5,9 persen, dengan tingkat volatilitas delapan persen.

Rupiah Terapresiasi

Seperti menjelaskan pernyataan BI, pada Rabu (2/1) sore, rupiah menguat sebesar 20 poin ke posisi Rp14.450 dibandingkan sebelumnya Rp14.470 per dolar AS.

Hal itu didukung juga oleh  faktor lain seperti data inflasi yang sesuai sasaran pemerintah sebesar 3,5 persen dengan deviasi 1 persen. "Inflasi yang terkendali akan menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi," kata Pengamat pasar uang dari Bank Woori Saudara Indonesia, Rully Nova.

Ia menambahkan apresiasi nilai tukar rupiah juga seiring sentimen terhadap dolar AS yang cenderung negatif. "Dolar AS mengalami pelemahan terhadap sejumlah mata uang dunia karena kehati-hatian pelaku pasar dalam menyikapi kebijakan the Fed yang cenderung 'dovish'," katanya.