BREAKINGNEWS.CO.ID - Kasus penyebaran kabar dusta atau hoaks yang diduga dilakukan aktivis Ratna Sarumpaet, segera menggelinding ke penuntutan. Saat ini, pihak kepolisian tengah merampungkan berkas perkara tersangka hoax penganiayaan Ratna untuk dilimpahkan ke penuntut.

"Kasus bu Ratna saat ini masih dalam penelitian penyidik, kira-kira berkas ini sudah layak untuk diajukan ke JPU. (Saat ini) sedang diteliti satu per satu apakah secara formil sudah dilengkapi semua atau secara materiil sudah masuk sesuai pasal yang disangkakan," ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Senin (5/11/2018).

Tekait kasus itu, Argo menyebutkan penyidik tidak memerlukan saksi lagi untuk diperiksa dalam kasus kabar dusta Ratna Sarumpaet. Dalam kasus ini, polisi telah merampungkan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi. Yakni Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal, Amien Rais, Plt Kadisparbud DKI Asiantoro, Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno Nanik S Deyang, anak kandung Ratna, Atiqah Hasiholan serta driver dan staf Ratna Sarumpaet.

Ratna ditetapkan sebagai tersangka penyebaran berita dusta alias hoax untuk membuat keonaran. Ratna disangkakan dengan UU Peraturan Hukum Pidana dan UU ITE. Dalam kasus ini Ratna mengakui kebohongannya yang disampaikannya ke penyidik setelah polisi membeberkan fakta-fakta penelusuran isu penganiayaan. 

Ratna ditangkap polisi saat hendak terbang ke Chile di Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis (4/10). Polisi juga menggeledah rumah Ratna dan menemukan laptop, ada buku agenda, ada flashdisk dan baju yang digunakan Ratna.

Selepas pemeriksaan, Ratna resmi ditahan di Mapolda Metro Jaya dan ditetapkan sebagai tersangka dengan dijerat Pasal 14 UU 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan UU ITE Pasal 28 juncto Pasal 45. Dia terancam hukuman 10 tahun penjara.

Dalam kasus ini polisi telah memperpanjang masa penahanan tersangka Ratna Sarumpaet dari 20 hari pertama menjadi 40 hari masa penahanan.