BREAKINGNEWS.CO.ID – Kepolisian Venezuela berhasil menangkap enam orang ‘teroris dan pembunuh bayaran’ yang diduga terkait dengan insiden percobaan pembunuhan terhadap Presiden Nicolas Maduro pada Minggu (5/8/2018).

Dikutip dari AFP, Menteri Dalam Negeri dan Keadilan Nestor Reverol mengumumkan penangkapan itu melalui televisi pemerintah dan menyatakan akan ada kemungkinan orang lain yang ditangkap dalam waktu dekat. Tiga prajurit dalam kondisi kritis dan empat lainnya terluka dalam sebuah serangan terhadap Maduro yang melibatkan dua pesawat tanpa awak (drone) pada Sabtu (4/6). Percobaan pembunuhan itu berlangsung kala Maduro berpidato di acara militer di Caracas.

Reverol menggambarkan itu sebagai 'kejahatan terorisme dan pembunuhan' serta menyatakan bahwa dalang di balik serangan itu telah berhasil diidentifikasi. Maduro bersumpah akan memberikan hukuman maksimal kepada pihak yang mencoba membunuhnya. Dia menuding Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos dan kelompok "sayap kanan" yang merujuk pada kelompok oposisi.

Tudingan itu disampaikan Maduro walaupun kelompok pemberontak telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. "Tidak ada maaf untuk kejadian yang disebut militer sebagai aksi barbar dan upaya putus asa untuk tujuan destabilisasi" kata Maduro.

Nicmer Evans, mantan loyalis pemerintah yang saat ini menjadi pemimpin partai oposisi menuturkan dirinya khawatir langkah yang ditempuh pemerintah pasca percobaan pembunuhan terhadap Maduro akan membuka pintu bagi gelombang persekusi dan represi. Kekhawatiran itu dikatakan Evans setelah Menteri Pertahanan Venezuela, Padrino Lopez menyatakan bahwa militer memiliki loyalitas tidak bersyarat terhadap Maduro.

Percobaan pembunuhan terhadap Maduro terjadi pada Sabtu lalu saat Maduro sedang berpidato di podium dan disiarkan oleh televisi. Percobaan pembunuhan dilakukan dengan menggunakan dua drone yang masing-masing membawa satu kilogram bahan peledak plastik C4. Reverol mengatakan saat serangan terjadi, satu drone terbang di atas tribun di mana Maduro memberikan pidato tetapi drone tersebut mengalami disorientasi karena ada alat penghambat sinyal. Drone kedua kehilangan kontrol dan menabrak gedung di dekatnya.

Menteri Informasi Venezuela, Jorge Rodriguez menyebut tujuh tentara terluka akibat insiden tersebut. Kelompok pemberontak yang menamakan diri National Movement of Soldiers in Shirtsmengklaim bertanggung jawab atas aksi tersebut. Sementara Presiden Kolombia yang dituduh Maduro berada di balik serangan itu membantah terlibat dan menyebut tuduhan Maduro "absurd". Penasihat keamanan nasional Amerika Serikat John Bolton menyatakan pada Minggu bahwa tidak ada keterlibatan pemerintah Amerika dalam insiden itu. Ia bahkan mengatakan kepada Fox News Sunday bahwa bisa saja insiden itu dibuat oleh rezim Maduro.