BREAKINGNEWS.CO.ID - Direktur Eksekutif Indopolling Network, Wempy Hadir mengungkapkan bahwa pidato capres nomor urut 02, Prabowo Subianto telah menuai kritik dari berbagai pihak. Bahkan, kritikan tersebut datang dari kubu Prabowo sendiri, misalnya saja politisi Fahri Hamzah.

Fahri, kata Wempy, mengkritik bahwa durasi pidato Prabowo terlalu lama hingga dua jam. Selain itu, ada juga yang mengkritik soal substansi pidato mantan Danjen Kopassus itu. Biasanya pidato yang efektif adalah menggunakan waktu yang singkat untuk menyampaikan hal-hal yang sangat substantif dan mudah diingat oleh pendengar. Point-point apa yang ditekankan oleh pembicara. Ada kelemahan pidato dengan durasi yang panjang yakni pendengar tidak bisa menangkap pesan yang disampaikan.

"Menurut saya, pidato Prabowo tidak membawa dampak kenaikan elektabilitas bagi dirinya sendiri. Sebab, apa yang disampaikan oleh Prabowo bukan hal yang baru," kata Wempy kepada breakingnews.co.id saat dihubungi, Selasa (15/1/2019).

"Sejak dia (Prabowo) masuk dalam kontestasi pilpres dari periode ke periode tetap sama narasinya. Sehingga publik tidak melihat ada hal yang baru yang disampaikan oleh Prabowo," sambungnya.

Selain itu, lanjut Wempy, publik ingin adanya satu kata dan perbuatan dari Ketua Umum Partai Gerindra itu. Publik tidak ingin pemimpim yang hanya jago bicara tapi miskin perbuatan.

"Yang paling penting bagi rakyat adalah sudah sejauhmana Prabowo melakukan advokasi terhadap persoalan rakyat. Itulah yang mesti disampaikan oleh Prabowo dalam pidato tersebut, sehingga publik menilai dan tahu bahwa Prabowo tidak hanya sekedar retorika belaka tapi melakukan hal yang nyata," tegasnya.

Tak hanya itu, Wempy berpendapat dengan mengutuk situasi atau kondisi bangsa ibarat mengutuk kegelapan tapi tidak menyalakan lilin. Artinya bahwa ketika tahu ada persoalan yang dihadapi bangsa ini, mesti memberikan solusi agar persoalan tersebut bisa diatasi.

"Pidato Prabowo seharusnya mengangkat fakta dalam bentuk narasi teks. Sehingga apa yang dinarasikan adalah fakta yang terjadi, bukan hayalan atau ilusi," lanjutnya.

"Jadi, saya melihat bahwa pidato Prabowo tidak efektif dan publik sulit menangkap apa yang hendak dijadikan poin penting dari pidato tersebut. Dengan demikan bahwa Prabowo tidak mendapatkan dampak positif dari pidatonya itu sendiri," pungkas Wempy yang juga pengamat politik itu.