BREAKINGNEWS.CO.ID – Bendungan di sebuah pertambangan di Brasil bagian tenggara runtuh pada Sabtu (26/1/2019) pagi waktu setempat. Insiden tersebut dilaporkan menelan ratusan korban jiwa.

Sebelumnya, semburan lumpur menerobos bendungan yang tidak digunakan di sebuah tambang biji besi milik pertambangan Brasil Vale di negara bagian Minas Gerias. Saat itu, ada tujuh orang tewas dan 150 orang lainnya hilang. Petugas pemadaman kebakaran setempat yang kembali menyusuri lokasi kejadian pada Sabtu (26/1) pagi kemudian mendapatkan data yang lebih banyak, di mana 9 orang meninggal dunia dan 300 orang lainnya hilang.

Kecelakaan ini menyebabkan banjir lumpur hebat. Sampai sejauh ini, puluhan orang terperangkap di kawasan tersebut. Di antara para korban, kebanyakan adalah 100 pekerja tambang yang saat itu sedang menyantap makan siang di kantor.

Merespons bencana tersebut, Presiden Brasil, Jair Bolsonaro yang dijadwalkan mengunjungi negara bagian Minas Gerais, direncakan akan memantau lokasi kejadian dari udara. "Fokus perhatian kita pada saat ini adalah para korban dalam tragedi yang mengerikan ini," kata Bolsonaro.

Bukan Tragedi Pertama

Ini bukan kali pertama musibah bendungan jebol terjadi di negara bagian yang kaya tambang itu. Pada 5 November 2015, dam yang lebih besar kolaps, airnya yang tumpah menewaskan 19 orang. Lebih dari 60 juta meter kubik air, yang cukup untuk mengisi 20.000 kolam renang standar Olimpiade tumpah ke daerah sekitarnya.

Bendungan yang jebol pada 2015 adalah milik Samarco Mineracao SA, perusahaan patungan (joint venture) antara Vale dan BHP Group Ltd. Kala itu lumpur akibat insiden tersebut mengubur sebuah desa dan menumpahkan cairan beracun ke sungai utama di wilayah itu. Chief Executive Vale SA, Fabio Schvartsman mengatakan, bendungan yang jebol Jumat kemarin di tambang Feijao sedang dinonaktifkan. Kapasitasnya sekitar seperlima dari total air bercampur lumpur yang tumpah di bendungan milik Samarco. Ia menambahkan, data instrumen menujukkan, bendungan tersebut dalam kondisi stabil pada 10 Januari 2019. Schvartsman menambahkan, masih terlalu dini untuk menentukan mengapa bendungan itu hancur.