BREAKINGNEWS.CO.ID - Prestasi sepak bola nasional yang stagnan memunculkan sejumlah keprihatinan masyarakat. Gendut Donny, mantan pemain nasional yang kini menekuni kepelatihan berharap pemilihan anggota Komite Eksekutif PSSI November depan bisa menjadi titik balik untuk membangkitkan prestasi tim nasional Indonesia.

Gendut yang pernah menjadi top scorer di Piala AFF 2000 di Bangkok, berharap PSSI bisa memberikan kesempatan kepada para pelatih muda lokal. Apalagi Gendut dan rekan-rekannya sudah mengikuti sejumlah kursus yang menjadi persyaratan untuk memiliki lisensi kepelatihan.

“Ada banyak klub Liga 1 bahkan Liga 2 yang hingga kini masih mempergunakan jasa pelatih asing meski lisensinya masih dipertanyakan,” ujar Gendut.

Ia mencontohkan ada pelatih asal Brasil yang sempat terheran-heran dengan modul kepelatihan dalam kursus pelatih yang Gendut dan rekan-rekannya pelajari selama ini. “Dia mengaku tak pernah mendapatkan modul kepelatihan yang sudah standar di AFC itu. Saya jadi berpikir, bagaimana dia bisa memiliki lisensi kepelatihan kalau modul standar itu tak pernah dipelajarinya,” kata Gendut.

Pengalaman lain dari rekan-rekannya sesama pelatih muda, Gendut juga menyebut masih adanya campur tangan pengurus atau anggota Komite Eksekutif PSSI di timnas. “Saya tak usah sebutkan Namanya, tapi orang ini bisa mempengaruhi rekan saya, dulu di timnas senior, yang sempat melatih timnas di Piala AFF lalu. Pengurus ini bahkan ikut menentukan siapa pemain yang sebaiknya turun atau tidak,” kata Gendut.

Bagi pelatih campur tangan teknis tersebut tentu sangat mengganggu. “Masing-masing pelatih pasti punya idealism sendiri dan argumennya saat menentukan pemain. Sebaiknya soal teknis jangan sampai dicampuri pengurus yang nota bene tak berpengalaman main di lapangan,” kata Gendut.

Ke depan, ia berharap agar independensi pelatih di timnas, atau bahkan di klub jangan selalu dicampuri oleh pengurus. “Anehnya kalau pelatih asing seperti Luis Milla, tak ada pengurus yang berani turut campur,” kata mantan pemain, Persija, Persijatim, Persebaya dan Persikota itu.

Ia pun berharap ke depan, anggota PSSI benar-benar memilih figur yang benar-benar memahami sepak bola. Bukan orang-orang baru yang sejatinya tak paham dinamika sepak bola, terutama di PSSI.