JAKARTA - Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen (Pol) Fadil Imran menyebutkan, kelompok Muslim Cyber Army (MCA) dalam menjalani aksinya memiliki armada yang besar di media sosial. Menurut Fadil, anggkota kelompok tersebut mencapai ratusan ribu orang yang tergabung dalam MCA United.

Fadil mengatakan, di media sosial cukup banyak yang menggunakan nama MCA. Selain itu, MCA United merupakan grup terbuka sehingga siapapun bisa bergabung ke dalamnya. "Grup ini sebagai wadah untuk menampung unggahan dari anggota MCA yang upload berita, video, gambar, untuk disebarluaskan," kata Fadil, Kamis (1/3/2018). Grup besar itu juga mempunyai 20 admin dan moderator. Polisi juga sudah menangkap salah satu anggotanya bernama Tara Arsih.

Fadil melanjutkan, grup berikutnya adalah bernama Sniper Team. Pada kelompok itu bersifat tertutup dan jumlah anggota terbatas yakni 177 orang. Grup yang dibuat di Facebook ini sebagai wadah untuk melaporkan akun-akun yang dianggap sebagai lawan untuk mereka blokir. Lalu, kelompok ini juga menyebarkan virus agar kelompok lawan tak bisa mengoperasikan gawainya. "Salah satu adminnya adalah Ramdani Saputra yang sudah tertangkap," kata Fadil.

Kemudian ada pula grup yang lebih tertutup serta sedikit jumlah anggotanya. Grup itu bernama Cyber Muslim Defeat Hoax dengan anggota 145. Tugas dari kelompok ini adalah melakukan penggalangan opini dengan membagian berita secara masih dan serentak. Selain itu, kelompok ini juga mengatur pergerakan isu apa yang akan diviralkan di media sosial secara periodik. Polisi sekarang ini masih mengejar admin grup tersebut.

Terakhir, grup paling rahasia yang hanya beranggota sedikit yakni sembilan orang saja. Grup ini dinamakan The Family MCA. Polisi sudah menciduk lima orang di antaranya, yakni Ramdani, Muhammad Luth, Rizki Surya Dharma, Yuspiadin, dan Roni Sutrisno. "Grup ini berisi orang-orang yang memiliki pengaruh dalam grup-grup lainnya, untuk mengatur dan merencanakan sebuah berita agar dapat diviralkan secara terstruktur," kata Fadil.

Tim ini, kata Fadil, adalah orang di balik layar atas konten-konten yang menyebar di media sosial MCA. Grup ini hanya melempar konten ke grup WhatsApp untuk selanjutnya MCA United yang bakal memviralkan melalui sejumlah media sosial seperti Facebook, Instagram dan Twitter. "Jadi mereka tidak pernah keluar mem-posting. Mereka yang setting, atur timeline," kata Fadil.

Menurut Fadil, kelompok MCA ini memang tidak mempunyai struktur pengurus seperti Saracen. Tetapi, mekeja bekerja secara sistematis. Kini yang menjadi pertanyaan siapa orang yang mendanai kegiatan mereka, karena penyebaran hoax ini ditengarai membutuhkan dana yang tidak sedikit.