BREAKINGNEWS.CO.ID -  Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa sore ditutup melemah dibayangi sentimen eksternal, terutama kekhawatiran terhadap resesi ekonomi global

Rupiah ditutup melemah 18 poin atau 0,13 persen menjadi Rp14.053 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.035 per dolar AS.

"Pasar masih ragu dan menunggu kepastian kebijakan moneter dari hasil pertemuan European Central Bank (ECB) yang akan dirilis pada Kamis besok," kata Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Selasa (10/9/2019).

ECB diprediksi memangkas suku bunga deposito perbankan dan menggelontorkan stimulus, termasuk pembelian obligasi kembali.

Seperti yang diketahui, pabrik-pabrik di zona Eropa, khususnya di Jerman, sedang berjuang menghadapi perlambatan pertumbuhan sebagai dampak perang dagang AS-China sehingga Presiden ECB Mario Draghi tidak akan tinggal diam guna untuk menstabilkan ekonomi zona Eropa.

Di domestik, Ibrahim meyakini apabila pasar kembali bergolak akibat perang dagang dan Brexit maka bank sentral siap untuk kembali membuat pasar bergairah dengan instrumen bauran kebijakan moneter. Selain itu amunisi terakhir adalah penurunan suku bunga acuan yang sudah dilakukan sebelumnya. "Ke depan, BI dan pemerintah akan terus mendorong perekonomian dan pre emptive  serta selalu waspada terhadap kondisi global dan terus membuat kebijakan yang akan mempermudah investor berinvestasi agar bisa masuk ke Indonesia," ujar Ibrahim.

Rupiah pada pagi hari dibuka menguat Rp14.030 dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.026 per dolar AS hingga Rp14.055 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa ini menunjukkan, rupiah menguat menjadi Rp14.031 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.1092 per dolar AS.

Berbeda dengan rupiah, di lantai bursa,   Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)  pada Bursa Efek Indonesia (BEI)   ditutup menguat seiring naiknya mayoritas bursa saham regional Asia.

IHSG ditutup menguat 10,46 poin atau 0,17 persen ke posisi 6.336,67. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 2,89 poin atau 0,29 persen menjadi 992,86. "Pergerakan indeks 'mixed' dan berakhir menguat, masih dalam sentimen 'windows dressing'. Besok pergerakan IHSG diperkirakan menguat dalam range 6.300 - 6.365," kata analis Panin Sekuritas William Hartanto di Jakarta, Selasa.

Windows dressing adalah strategi yang dilakukan oleh manajer investasi maupun perusahaan terbuka untuk mempercantik portofolio atau kinerja laporan keuangan sebelum ditampilkan kepada para pemegang saham.

Dibuka menguat, IHSG nyaman berada di zona hijau sepanjang sesi pertama. Pada sesi kedua, indeks menghabiskan waktu di zona merah sebelum akhirnya kembali menguat jelang penutupan perdagangan saham.

 

Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual asing bersih atau "net foreign sell" sebesar Rp438,82 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 590.400 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 14,26 miliar lembar saham senilai Rp8,14 triliun. Sebanyak 203 saham naik, 204 saham menurun, dan 151 saham tidak bergerak nilainya

Sementara itu, bursa saham regional Asia antara lain indeks Nikkei menguat 73,68 poin (0,35 persen) ke 21.3921, indeks Hang Seng melemah 2,28 poin atau 0,01 persen ke 26.683,68, dan indeks Straits Times menguat 9,38 poin (0,3 persen) ke posisi 3.155,71.