BREAKINGNEWS.CO.ID - Manajemen Bank Mandiri masih menghitung jumlah total nasabah serta kredit yang terdampak gempa bumi dan tsunami di  Palu dan Sulawesi Tengah secara keseluruhan. Penghitungan dengan jumlah yang tidak sedikit dan beragam itu dengan tujuan untuk mengetahui secara tepat jenis keringanan  apa yang bisa diberikan BUMN keuangan itu saat masa pemulihan dimulai.

“Kan banyak ada KPR, lumayan lah, tidak kecil,"kata Direktur Corporate Banking Bank Mandiri Royke Tumilaar di Jakarta, Jumat (6/10/2018).

Pihaknya dalam hal ini, Bank Mandiri, akan memberi keringanan bagi nasabahnya yang terkena bencana di Palu dan sekitarnya. Apalagi yang rumah dan tempat usahanya hancur akibat gempa dan tsunami.

Bencana alam seperti itu, kata Roke, sudah diantisipasi Bank Mandiri. "Pasti Mandiri akan bantu meringankan beban orang yang ketimpa bencana di sana. Tidak serta merta kita tagih, orang bisnisnya sudah tidak ada, hilang," tegasnya.

Royke belum memastikan keringanan apa yang diberikan Mandiri. Nantinya akan dilihat kasus per kasus untuk diputuskan jalan keluarnya. Salah satunya, kata dia, bisa dengan menghapus bunga. "Kita lihat nanti bagaimana, kan ada yang hilang sama sekali usahanya, ada juga beberapa yang tidak kena (bencana)," kata Royke.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total penyaluran kredit perbankan di   provinsi ini tidak kurang dari  Rp16 triliun. Angka tersebut tersebar di tiga wilayah yang beberapa waktu lalu terkena gempa bumi dan tsunami. OJK bakal memberikan kelonggaran bagi kredit yang terkena dampak. Artinya, debitur yang menjadi korban bencana tidak akan ditagih terlebih dahulu oleh perbankan sampai waktu tertentu. "Itu nanti bisa di-rescheduling penagiahnnya, keterlambatan denda enggak diterapkan, intinya memberikan kemudahan bagi debitur sebab kami ada POJK nomor 45 tentang perlakukan khusus bank daerah tertentu bagi korban bencana alam," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso.

Sementara itu, Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani mengatakan, pemerintah mengucurkan dana Rp 500 miliar untuk merenovasi puluhan ribu rumah yang terdampak gempa di Nusa Tenggara Barat. “Sudah 23.000 rumah yang selesai dan sudah kita alokasikan anggarannya,” ujarnya.

Bantuan ini diberikan kepada korban yang terdampak baik kerusakan kecil, sedang, maupun berat. Pemberian dana diharapkan sebagian sudah selesai di tahun 2018. “Kita akan selesaikan di tahun 2018 dan kemungkinan akan ada sisa sedikit di tahun 2019. Harapannya yang rusak sedang dan ringan bisa diselesaikan di tahun 2018, sedang verifikasi BNPB,” ujar Askolani.