JAKARTA - Bank Dunia menilai tingkat konsumsi masyarakat saat ini masih cukup bagus meski sekilas terlihat ada penurunan konsumsi. Lead Economist Bank Dunia untuk Indonesia, Frederico Gil Sander, menyatakan ada persepsi konsumsi melemah karena turunnya penjualan ritel. Padahal, ritel hanya memberi sebagian gambaran konsumsi.

Menurutnya, konsumsi di Indonesia mulai beralih ke jasa dan pangan yang mungkin kurang tertangkap survei Bank Indonesia (BI). "Tingkat konsumsi masyarakat stabil pada tingkat yang sesuai dengan potensi pertumbuhan PDB Indonesia, juga sejalan dengan kebijakan makroekonomi negara," terang Gil Sander lewat akun Twitter Bank Dunia Indonesia, @BankDunia, Rabu (6/6/2018).

Hal ini disampaikannya terkait laporan Indonesia Economic Quarterly edisi Juni 2018.

Disebut oleh Gil,  konsumsi barang mengalami penurunan dalam periode 2000-2016. Namun, konsumsi layanan jasa mampu menunjukkan peningkatan dalam periode yang sama, sehingga porsinya terus naik dan mendekati konsumsi barang.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksi tetap kuat meski risiko global meningkat, seperti normalisasi kebijakan moneter AS, risiko geopolitik, dan proteksionisme.

Dia menyebutkan ekonomi Indonesia masih tumbuh kuat pada kuartal I/2018 dengan 5,1% PDB. Hal ini didukung oleh pertumbuhan investasi yang lebih pesat, termasuk dari hasil proyek infrastruktur pemerintah dan pertambangan.

Pertumbuhan yang didorong investasi disebut sebagai pertumbuhan yang bermutu tinggi. Namun, Indonesia dinilai masih terlalu terikat pada komoditas.