JAKARTA - Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) pada Kamis (3/5/2018) menyampaikan, hujan lebat serta banjir yang melanda lebih dari satu bulan di Kenya menewaskan 100 orang dan menelantarkan hampir 260.000 orang.

Banjir juga berpotensi mengakibatkan atau memperburuk wabah penyakit seperti malaria serta kolera, dan terkontaminasi sumber air dan 33 pusat kesehatan hancur bersama dengan rumah, tanaman, sistem irigasi serta peralatan pertanian, hingga jalan dan jalur kereta, kata IFRC.

Menurut IFRC, banyak masyarakat yang terkena dampak sudah berjuang untuk pulih dari kekeringan pada 2017. "Ini adalah tragedi ganda bagi banyak masyarakat. Saya khawatir banjir ini akan mendorong beberapa orang melebihi batas," kata Abbas Gullet, Sekretaris Jenderal Masyarakat Palang Merah Kenya.

Menurut Palang Merah Kenya, sudah ada wabah kolera yang aktif di lima wilayah yang terkena banjir. IFRC menuturkan bahwa bersama Kenya Red Cross Society, mereka sudah meluncurkan permohonan darurat internasional untuk dana sekitar 4,7 juta dolar AS atau sekitar 65,6 miliar rupiah untuk menyediakan perlindungan dan pemukiman, kesehatan dan gizi, air serta sanitasi dan ketahanan pangan serta dukungan mata pencaharian bagi 150.000 orang.