BREAKINGNEWS.CO.ID - Guna membangunan sebanyak 70 ribu lebih jaringan gas (jargas) di seluruh Indonesia, pemerintah menganggarkan dana sebesar Rp 1 triliun pada anggaran tahun 2018 ini. Mengingat, dengan jumlah anggaran dana yang disiapkan serta pembangunan puluhan ribu jargas tersebut karena kebutuhan Indonesia dalam hal ini dinilai tinggi. "Anggaran tahun ini 1 juta untuk 70.000an sambungan. Kebutuhan Indonesia tinggi," ujar Pimpinan Komisi VII DPR RI Herman Khaeron, Jumat (29/8/2018).

Menurut Herman, selama ini pemerintah lebih fokus pada infrastruktur seperti jalan. Namun, terkait dengan pemipaan gas maupun BBM dinilai masih kurang. Untuk itu, ia menilai jika hal tersebut harus segera ditingkatkan. Padahal, jargas merupakan solusi bagi penyedia energi di rumah tangga untuk menggantikan tabung yang selama ini kerap bermasalah. "Tabung banyak bermasalah seperti langka, harga mahal, dan lainnya. Dengan jargas langsung masuk ke rumah tangga dan harganya tetap tidak berfluktuasi," tuturnya.

Selain itu, efesiensi jargas jika dibandingkan dengan gas tabung mencapai hingga 50 persen. Harga jargas pun hanya sebesar Rp 1.750 per meter kubik. Namun, gas yang disubsidi itu mencapai Rp60.000. "Bagaimana kalau tidak disubsidi? Dengan efisiensi 50 persen, dalam jangka panjang pemerintah bisa alokasikan anggaran APBN dengan mengkonversi jaringan subsidi ke jaringan transmisi utuk masyarakat," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Infrastruktur dan Teknologi PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Dilo Seno Widagdo mengatakan jika pemerintah melalui PGN menargetkan 1 juta jargas di Indonesia. Pembangunan tersebut dilakukan secara bertahap setiap tahunnya. "Jumlah rumah tangga di Indonesia saat ini 126 juta. Kami targetkan atau kami maunya satu atau dua tahun ke depan itu bisa terbangun jargas untuk 1 juta pelanggan," ucapnya. "Program ini untuk Sulawesi, Papua, Kalimantan, Jawa, seluruh Indonesia. Jaringan gas ini nantinya akan langsung tersambung ke rumah tangga," sambung Dilo.

Program ini merupakan upaya jangka panjang agar bisa mengurangi subsidi LPG. Saat ini, cadangan gas Indonesia cukup untuk 70 tahun ke depan. Namun cadangan minyak makin turun. Karena itu, pembangunan jaringan gas jauh lebih efisien dan aman dibanding LPG.