BREAKINGNEWS.CO.ID – Beberapa waktu lalu, pasca eksekusi bandar narkoba Fredy Budiman, aparat Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam sidaknya menemukan fakta bahwa raja narkoba tersebut sudah punya penerus dan bernama HC, tempatnya masih sama yakni LP Cipinang.

Sel mewah yang dihuni HC 11-12 dengan apa yang pernah dinikmati Freddy. Lokasinya masih di  penjara yang sama, Cipinang. Di sel itu terdapat fasilitas TV LCD berukuran besar. TV yang terpasang ditembok penjara. Di atas TV itu terdapat sebuah air conditioner (AC) yang membuat sel begitu dingin.

Tak hanya itu, di meja yang ada di sel, terdapat tiga buah Handphone serta sebuah laptop bermerk Mac Book. Jelas sel itu lebih layak disebut hotel.

Fakta tersebut menguak kenyataan bahwa uang berlimpa memberi kesempatan bagi siapapun untuk membeli fasilitas yang semestinya tak boleh dimiliki oleh mereka yang berstatus napi itu. Namun   fakta berbicara lain.

Jika diurut, tak hanya HC, masih banyak penjahat lain yang juga pernah melakukan hal serupa.

Berikut catatan Breakingnews.co.id yang dihimpun dari sejumlah sumber..

 

  1. Freddy Budiman

Otak di balik penyelundupan jutaan pil ekstasi itu disebut mendapatkan ruangan mewah di LP Cipinang. Dari seorang saksi, , model majalah dewasa bernama   Vanny Rossyane, seorang model majalah pria dewasa, blak-blakan menceritakan bagaimana gembong narkoba Freddy Budiman  memiliki bilik asmara khusus yang digunakan untuk memadu kasih. Ironisnya, Freddy bisa memadu kasih dengan beberapa wanita di ruangan Kalapas.

Berbagai perkakas dan bahan baku sabu ia dapatkan dari luar dengan menyuap para sipir penjara. Kini, Freddy Budiman sudah dieksekusi mati di Nusa Kambangan bersama beberapa terpidana mati lainnya.

 

  1. Artalyta Suryani

Mendapat ruang mewah dalam penjara juga pernah dimilili  Artalyta Suryani atau akrab disapa Ayin, mendekam di Rutan Pondok Bambu, tepatnya di Blok Anggrek 1 A. Dia menghuni kamar berukuran 3×6 meter.

Di kamar tersebut terdapat kamar mandi berukuran 1 x 1,5 meter persegi berisi bak mandi mengkilap dan bersih serta kloset duduk mirip yang ada di hotel-hotel.

Kamar mandinya tak hanya satu. Di salah satu sisi dindingnya juga menempel bak mandi, lengkap dengan peralatan mandi dan beberapa alat kosmetik mewah berjejer rapi.

Tak ada karpet atau kasur busa seperti layaknya di ruang tahanan masyarakat  biasa. Di sel milik Ayin terdapat spring bed berukuran double hingga alat fitness yang dijadikan gantungan baju.

Sel itu juga dilengkapi TV layar datar 21 inchi dan AC portabel sebagai pendingin ruangan.

Kemewahan penjara Ayin terungkap ketika tim yang dibentuk mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, melakukan inspeksi mendadak ke penjaranya pada 2010. Ayin yang terjerat kasus penyuapan Jaksa Urip tak bisa berkata-kata saat ruangan selnya disidak petugas.

 

  1. Toni Si Toge Raja Narkoba Sumatera

Di Lapas Narkoba Lubuk Pakam, peristiwa serupa juga terjadi. Adalah Toni Toge, napi namun menjadi pengendali jaringan narkoba dan obat-0batan terlarang diketahui memiliki kamar mewah saat ia menjalani hukuman di  Lapas Lubuk Pakam, Sumatera Utara. BNN mendapatkan fakta itu saat melakukan sidak tahun 2016 lalu.

Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Pol Arman Depari, mengatakan fasilitas yang dimililikiToni adalah ruang karaoke, brangkas, CCTV dan uang. "Ini adalah jaringan Malaysia, Aceh, Sumatera Utara, dan Jakarta. Dengan barang bukti puluhan kilogram sabu, puluhan ribu pil ekstasi dan puluhan ribu happy five," kata Arman,  seperti dilansir Antaranews.com

 

  1. Kalapas Kalianda Lampung

Dari LP  kelas I Lampung,  mantan Kalapas Kalianda Muchlis Adjie ditahan penyidik Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung pada Mei 2018 lalu karena diduga terlibat peredaran narkoba. Ia disebut mengetahui peredaran narkoba di dalam lapas yang dikendalikan oleh napi bernama Marzuli Yunus.

Selama dalam tahanan, Marzuli ini menikmati berbagai faslitas, tentunya dengan memanfaatkan Muchlis.

BNNP menduga ada aliran dana yang diterima Muchlis dan Marzuli. Kepala BNNP Lampung Tagam Sinaga mengatakan setidaknya ada tiga kali transaksi uang dari Marzuli kepada Muchlis.

"Sedikitnya ada tiga kali transaksi yang ditransfer ke rekening Muchlis. Semua ini kami telusuri berapa nominalnya," kata Tagam, dikutip dari Antara.

Dalam kasus ini BNNP juga mengamankan empat buku rekening dari empat bank milik Muchlis. Penyidik juga membuka peluang adanya pidana pencucian uang yang dilakukan.