BREAKINGNEWS.CO.ID - Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) membenarkan jika keberadaan hoax akhir-akhir ini terus meningkat. Adapun hoax tersebut secara masif tersebar di media sosial.

"Betul, jumlahnya dari Agustus 2018 sebanyak 25 hoax, Desember 2018 sebanyak 75 hoax, Januari itu sebanyak 175 hoax," kata Bamsoet kepada wartawan saat ditemui di sela-sela acara seminar nasional yang mengusung tema ''Melawan Hoax Untuk Menciptakan Pemilu 2019 yang aman, damai dan sejuk di media sosial' di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (28/3/2019).

Untuk itu, dalam memerangi hoax tersebut, lanjut Bamsoet, dibutuhkan langkah-langkah yang konkrit. Menurutnya, dari data sendiri hoax semakin meningkat dan paling besar 23 persen berkaitan dengan politik.

"Ini ada kaitannya mungkin dengan tahun pesta politik. Makanya saya ajak karena ini dikatakan pesta politik, mana ada orang ke pesta ngajak berantem. Ke pesta itu kita fun, makan dan lain sebagainya," ujar Bamsoet. "Saya berharap juga nanti tanggal 17 April 2019 mendatang suasana begitu, suasana pesta bukan mau berantem," imbuhnya.

Dirinya berpendapat bahwa penindakan terhadap hoax menurutnya ada tiga cara. Hoax, kata Bamsoet, harus ditindak di hulu, di tengah dan di hilir.

"Di hulu itu jangka panjang, literasi sosialisasi. Di tengah kami melakukan tindakan-tindakan di dunia maya, seperti tadi saya sampaikan dan kita informasikan ke publik setiap hari hoax apa, hoax of the day itu apa. Dan di hilir bekerja sama dengan polisi karena penindakan di dunia nyata dilakukan oleh aparat penegak hukum," ujarnya.

"Jadi kami support, profiling dan lain sebagainya kita support lah. Karena tidak bisa Kominfo menyelesaikan ini sendiri. Literasi semua elemen harus ikut. Saya juga berterima kasih kepada media yang selalu menyediakan kolom atau kalau di televisi itu waktu-waktu khusus untuk bicara mengenai bagaimana menggunakan media sosial khususnya, maupun instan messenging dengan baik. Jangan lupa modusnya itu posting dengan menggunakan medsos. Akun yang dibuat seketika tapi ketika diposting selesai dia screenshot, kemudian akunnya ditutup sendiri, diviralkan melalui instan messenging," tegasnya.

Sementara itu, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengatakan jika dunia siber dapat melumpuhkan negara. Bamsoet mengatakan dirinya tidak ingin mencampur adukkan antara dunia siber dengan siber security serta BSSN dan hoax.

"Hoax itu paling banyak di media sosial Facebook (FB), Instagram. Kalau di Twitter jauh menurun. Ya kelompok keluarga itu lah, FB dan Instagram," pungkasnya.