JAKARTA - Pada intinyanya dorongan seksual pria dan wanita sama karena faktor yang mempengaruhinya sama. Beberapa faktor yang mempengaruhi dorongan seksual adalah hormon testosteron, kondisi kesehatan tubuh, faktor psikis serta pengalaman seksual sebelumnya. Jadi tidak benar anggapan yang beredar luas di masyarakat kalau dorongan seksual pria lebih kuat daripada wanita.

Namun bila kemudian wanita merasa dorongan seksualnya mengalami penurunan, bahkan tidak tertarik sama sekali melakukan hubungan seksual, itu karena disebabkan hambatan pada faktor tertentu, seharusnya segera dapatkan penanganan atau konseling dokter. Wanita yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga dengan filosofi bahwa wanita hanya bertugas melahirkan dan mengurus keluarga, mungkin akan mengalami hambatan psikis dalam kehidupan seksualnya. Akibatnya, mengalami hambatan dalam mencapai orgasme.

Wanita yang pengalaman seksualnya tidak menyenangkan selama menikah, lumrah apabila kemudian menjadi tidak tertarik melakukan hubungan seksual. Pengalaman seksual yang tidak menyenangkan, terlebih karena tidak pernah mencapai orgasme atau merasa sakit setiap berhubungan seksual, dialami oleh banyak wanita. Sementara di pihak pria, pada umumnya tidak terjadi masalah hambatan mencapai orgasme.

Seperti pria, wanita juga pasti ingin sering melakukan hubungan seksual bila dirasa menyenangkan dan memberikan kepuasan. Tetapi sebaliknya, bila itu tidak menyenangkan, apalagi menyiksa, wajar bila tidak ingin lagi melakukannya.

Apakah istri bisa menikmati hubungan seksualnya atau tidak, itu sangat berpengaruh bagi kehidupan seksual selanjutnya. Bukan tidak mungkin, selama ini dia tidak pernah atau sangat jarang merasakan kepuasan seksual. Akibatnya, dia merasa enggan atau tidak suka melakukannya lagi.

Alasan "capek, pusing dan ngantuk" bisa jadi memang benar dialami, tetapi mungkin juga itu cuma alasan untuk menghindar dari hubungan seksual yang tidak menyenangkan. Menghadapi alasan tersebut, seharusnya suami berupaya mengetahui lebih jauh. Kalau memang benar sang istri selalu mengalami keluhan itu, mungkin terdapat gangguan fisik atau psikis.

Keluhan seperti itu dapat timbul karena berbagai gangguan fisik, yang dapat juga mengakibatkan gangguan fungsi seksual. Pada sisi lain, keluhan itu dapat juga timbul karena gangguan psikis seperti kekecewaan dan kecemasan. Dalam hubungan dengan kehidupan seksual, kekecewaan dan kecemasan dapat timbul karena kegagalan mencapai orgasme dan kepuasan seksual.

Yang pasti, tidak benar wanita sering mengeluh "capek, pusing dan ngantuk". Manusia sehat tidak akan mengalami keluhan seperti itu. Hanya manusia tidak sehat, fisik ataupun psikis, yang sering mengalami keluhan itu.

Bila jalan keluar yang dilakukan oleh suami dengan melakukan masturbasi hanyalah jalan keluar yang sepihak. Artinya, suami hanya mendapatkan pelepasan dari ketegangan seksualnya, itupun tidak memberikan kepuasan seksual yang utuh.

Masturbasi tidak menimbulkan akibat buruk secara fisik. Secara psikis mungkin menimbulkan ketidakpuasan. Tetapi cara ini hanya merupakan jalan keluar untuk sementara karena tidak menyelesaikan masalah yang ada. Jadi jangan harap bila istri mengetahui perbuatan itu, ia langsung berbalik menjadi agresif seperti yang diharapkan dan masalah selesai.

Selama faktor penyebab yang membuat istri sering menolak hubungan seksual masih ada, selama itu pula hubungan seksual mereka tidak akan harmonis. Maka sangat penting mengetahui apa yang menyebabkan istri bereaksi negatif seperti itu. Inilah yang harus dilakukan suami.

[ Jangan-jangan Karena Masalah Fungsi Seksual Suami ]
Untuk menangani masalah dalam kehidupan seksualnya, suami serta istri harus dapat membina komunikasi yang baik. Lewat komunikasi yang baik dapat diketahui bagaimana sebenarnya kehidupan seksual sang istri selama ini. Melalui komunikasi yang mendalam juga dapat terungkap alasan yang selalu dikemukakan istri untuk menolak hubungan seksual, apakah memang benar dialami ataukah hanya sekadar alasan.

Tidak selamanya mudah membina komunikasi, khususnya komunikasi seksual, walaupun pasangan suami istri sudah lama menikah. Diperlukan semacam proses belajar untuk membina komunikasi seksual dengan pasangan. Informasi seksual yang benar, yang didapat dari sumber yang benar pula, dapat digunakan sebagai mediator untuk memulai komunikasi seksual.

Dari hasil komunikasi yang mendalam dapat diambil kesimpulan sementara, yang meliputi 1). Bagaimana kehidupan seksual istri selama ini, 2). Apakah keluhan istri hanya suatu alasan. Setelah mendapat kesimpulan, tentu suami dan istrinya memerlukan penanganan untuk mengatasi masalah itu.

Acapkali untuk menangani masalah tersebut diperlukan bantuan tenaga ahli seksologi. Melalui konsultasi yang mendalam dan pemeriksaan, dapat diketahui apa penyebab istri sering menolak melakukan hubungan seksual. Juga dapat diketahui apa sesungguhnya penyebab alasan "capek, pusing dan ngantuk" itu.

Kalau ternyata penolakan istri disebabkan karena kegagalan mencapai orgasme, maka harus diketahui pula apa penyebab kegagalan itu. Kegagalan istri mencapai orgasme banyak disebabkan karena gangguan fungsi seksual di pihak suami. Kalau ini yang terjadi, maka penanganan harus ditujukan pada suami sesuai dengan gangguan fungsi seksualnya. Karena itu tanpa konsultasi yang mendalam dan pemeriksaan, agak sulit mengatasi masalah yang dihadapi suami.

Beberapa cara serta obat untuk mengatasi gangguan fungsi seksual telah tersedia. Pada dasarnya penanganan gangguan fungsi seksual terdiri dari konseling, sex therapy, penggunaan obat dan alat bantu. Umumnya hasil penanganan cukup baik walaupun memerlukan ketekunan dan dukungan pasangan.