Oleh :ReTno MALLET

Bonjour Indonesia,

Banyak orang yang membuat rencana dalam hidupnya tapi saya tak masuk dalam kategori ini. Membayangkan kota Paris aja tidak  pernah, apalagi menetap di negara mode ini. Dulu jaman SMA pernah ikutan les bahasa Perancis tapi cuma sebentar aja.

Rencana hidup simple aja, jadi guru, ngajar murid-murid. Kemudian tiba-tiba ketemu jodoh orang Prancis dan tinggal di Perancis, dan sejarah itu tetap berjalan hingga sekarang…..  J

Lima tahun tinggal di  negara ini, semua berjalan normal. Berita virus corona mulai muncul pada  bulan Desember. Sama  seperti pemimpin sejumlah negara, Presiden Perancis Emmanuel Macron belum melakukan tindakan apapun.

Seoranng temen sempat ke Hongkong dan balik ke Perancis awal Desember dan Perancis  belum terusik. Kita masih hidup dalam kondisi normal.  Apalagi saya menetap di kota kecil, sekitar 300 km lebih dari Paris dan perlu 2 jam untuk ke Paris dengan naik kereta cepat kebanggaan Prancis yakni TGV.

Kehidupan masih normal. Di Paris masih banyak turis yang datang. Saya tinggal di kota kecil dan pastinya hanya beberapa orang Asia yang tinggal di sini dan setahu saya hanya ada 2 orang Indonesia yang tinggal di kota saya. Kota ini ramah, tenang dan relatif aman karena polisi sangat jarang terlihat.

Teman saya yang bernama Prudence itu, sempat cerita bahwa dia sangat beruntung bisa kembali ke Perancis awal Desember di saat Hongkong belum parah dengan kasus corona.

Januari sampai Awal Pebruari , saya dan temen saya dari HongKong sudah mulai khawatir mengapa Pemerintah Perancis belum menutup perbatasan dengan Italy. Kita sebagai minoritas Asia di Perancis mulai mengalami "sedikit ketidak nyamanan" karena stigma bahwa corona berasal dari China dan bagi sebagian orang Perancis, Asia adalah China. Jadi jangan heran, saat saya jalan-jalan ketemu orang, langsung ada beberapa orang Perancis yang menegur bilang "nihau"..atau langsung bertanya; anda dari Cina? Kemudian saya jelaskan bahwa saya dari Indonesia. Kalau yang bertanya adalah orang Perancis muslim, mereka segera tahu dan sangat bahagia bertemu dengan saya. Mereka selalu berkata bahwa orang Islam di Indonesia adalah orang yang baik. Mereka mendapat kesan baik saat mereka bertemu dengan muslim dari Indonesia yang melakukan ibadah haji di Mekah.

Awal Pebruari saat Italy sudah ada banyak korban  virus corona, saya dan teman saya sesama Asia mulai semakin resah karena negara Perancis belum mau  menutup perbatasan dengan Itali  dan sudah memberi dampak selaku  minoritas orang Asia di  negeri ini. Saya bersama teman saya pernah beberapa kali mengalami hal yang sedikit mengganggu dari sekitar kita. Misalnya saat di dalam supermarket, ada kejadian seorang ibu dengan trolley nya yang menghadang jalan, tidak mau memindahkan trolley nya dan menyuruh kita lewat jalan lain. Kemudian, saat saya ke apotik, staf di apotik juga bersikap tidak ramah karena adanya kasus corona. Sebelum ada kasus corona, mereka normal-normal aja. Saya bisa mengerti keadaan ini. Jadi nrimo aja. Mo protes juga gimana. Suami sempat bilang, kalau ada yang kasar, lebih baik lapor polisi. Alhamdulillah, tidak da yang sampai berlaku agresif.  

Selama Februari, orang masih bisa jalan-jalan disekitar kota dengan bebas bahkan saat mulai ditemukan kasus corona virus pertama pada  22 Pebruari, 2020. Korban pertama adalah seorang guru SMP di kota Crepy-en-Valois (50mile dari Paris). Kemudian kurang dari 24 jam, 17 orang terinfeksi corona setelah kembali dari Italy. Perancis masih belum menutup perbatasan dengan Itali. Alasannya adalah ekonomi. Bikin stress

Awal bulan Maret belum terjadi kepanikan bahkan sehari sebelum lockdown saya masih bisa habiskan waktu di sport club untuk berenang dan sauna  Aduhh🤔🤔..bayangin aja..dari tanggal 22 Februari sampai pertengahan Maret, perbatasan dengan Itali belum juga ditutup  oleh Presiden Macron.

Akhirnya tanggal 16 Maret,  2020  Prancis Lockdown dan itu juga masih sebagian. Dimulai dari penutupan beberapa terminal CDG karena alami kerugian.

Seperti yang sudah saya ceritakan, beberapa warga Perancis yang belum mau sadar dengan bahaya wabah ini. Hanya dalam jangka waktu sebulan, kematian melonjak menjadi 800 orang dan yang terinfeksi menjadi hampir 20.000 orang.

Jam Malam

Di kota kecil saya  udah ada 25 korban positif corona. Bikin saya makin deg-degan. Mau shopping jadi repot karena kalau mo keluar rumah harus ada surat keterangan mau ngapain dan kalau ga bisa kasih surat keterangan, di denda 135€ (Rp. 2.363.010,- dengan kurs 1€=Rp. 17.781,7).

Semua tutup kecuali toko yang menjual barang-barang pokok dan makanan. Itupun harus ngantri. Kalaupun mo belanja, ga boleh suami dan istri barengan, ga boleh bawa anak-anak.

Semua sekolah level apapun tutup. Anak-anak sekolah dan termasuk anak saya sedang galau karena mereka ga tau kapan jadwal sekolah bisa normal lagi dan khawatir bagaimana dengan ujian yang seharusnya sudah dilaksanakan karena sistem pendidikan di negara Perancis termasuk yang sangat ketat.

Untuk yang melanggar aturan-aturan saat lockdown pun benar-benar diterapkan. Sudah ada yang di bawa ke pengadilan karena melanggar aturan lockdwon kelayapan tanggal jam 11 malam di kotaku pake trottinette, terus dikejar polisi terus tertangkap dan yang paling konyol adalah orang ini memukul polisi dengan trottinette saat mo ditangkap. (hadeeuuh 🙄🙄).

Saat ini setiap jam 20.00 tak ada lagi yang boleh keluar kecuali yang punya ijin kerja, kami keluar dari apartemen atau rumah untuk bertepuk tangan mendukung para tim kesehatan yang terus berjuang.

Sayangnya juga masih saja ada beberapa orang yang masih suka sliweran ga jelas dan juga seperti masih dibukanya pasar tradisional yang menjual kebutuhan pokok langsung dari petani. Entah sampai kapan wabah ini bisa hilang dari Perancis, dengan reputasi dokter yang hebat, semoga bisa cepat teratasi.