BREAKINGNEWS.CO.ID - Harga minyak dunia kembali menunjukkan penguatan setelah sempat melemah pekan lalu. Sebelumnya pada perdagangan Jumat (16/8/2019) setelah harga minyak anjlok dalam dua hari berturut-turut, awal pekan ini mengalami rebound. Penguatan ditopang oleh ekspektasi pasar mengenai stimulus yang akan diberikan oleh sejumlah bank sentral guna meredam kekhawatiran munculnya resesi ekonomi.

Seperti diberitakan oleh Reuters, harga minyak berjangka Brent akhir pekan lalu naik 0,7 persen menjadi US$58,64 per barel. Pada perdagangan sebelumnya, minyak Brent sempat jatuh hingga 2,1 persen. Laporan bulanan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), menunjukkan harga minyak Brent sempat menyentuh harga tertinggi di level US$59,5 per barel. Investor mengharapkan bank sentral Amerika Serikat (AS) memangkas lagi suku bunga acuan dalam waktu mendatang.

Kendati berhasil melaju ke teritori positif, tetapi sejumlah sentimen negatif tetap menghantui harga minyak. Salah satunya adalah keputusan OPEC yang menurunkan perkiraan permintaan minyak global hingga akhir tahun ini akibat perlambatan ekonomi dunia. BNP Paribas akhirnya memangkas perkiraan harga minyak AS tahun ini sebesar US$8 per barel hingga US$55 per barel. Sementara, minyak Brent diprediksi turun US$9 per barel sampai US$62 per barel.

Awal pekan ini pasar sempat dikejutkan oleh data ekonomi China yang menunjukkan pertumbuhan output industri per Juli 2019 hanya 4,8 persen. Angka itu jauh dari estimasi sejumlah pihak yang mencapai 6 persen. Jika diakumulasi, harga minyak Brent masih naik hampir 10 persen sepanjang tahun ini. Penguatan tersebut dibantu oleh keputusan OPEC dan Rusia untuk mengurangi produksi minyak.

Kemudian, pada Juli 2019 kemarin OPEC dan Rusia juga setuju untuk memperpanjang pengurangan produksi minyak sampai Maret 2020 mendatang. "Sampai pada titik apa pengurangan produksi diperlukan sampai akhir tahun ini dari OPEC dan Rusia demi menjaga harga?" kata Phin Ziebell selaku Ekonom Senior National Australia Bank, dikutip Senin (19/8/2019).

Salah satu pejabat Arab Saudi juga menyatakan pihaknya turut berkomitmen untuk menjaga keseimbangan harga minyak tahun depan.