BREAKINGNEWS.CO.ID - Dua atlet lompat galah putri Indonesia, Diva Renata Jayadi dan Beby Alia, berhasil menguasai cabang olahraga lompat galah setelah berhasil merebut medali emas dan perak di ajang ASEAN Schools Games (ASG) yang berlangsung di Stadion Tri Lomba Juang, Semarang, Minggu (21/7/2019).

Diva sukses mendapatkan medali emas dengan lompatan setinggi 3,83 meter, sekaligus memecahkan rekor ASG atlet senegaranya yaitu, Jelita Nara Ideal dengan tinggi lompatan3,60 meter yang dilakukan pada ASG 2014 lalu di Filipina. Dia juga memperbaiki rekor pribadinya di Jatim Open setinggi 3,80 meter.

Sedangkan Beby Alia yang mendapatkan perak berhasil membukukan lompatan setinggi 3,40 meter sedangkan atlet asal Malaysia, Helena Low berhasil meraih perunggu dengan lompatan setinggi 3,20 meter.

Indonesia sendiri pada hari ketiga penyelenggarakan ASG 2019, dari cabang atletik sukses merebut satu medali emas dan tiga medali perak. Ketiga perak disumbangkan oleh Divia Aprilian di nomor lari 200 meter putri, Mutiara Oktarani di nomor lari 3.000 meter dan Ardian Yulianto pada lari 400 meter.

Saya senang bisa meraih emas sekaligus mematahkan rekor di ASG. Ini kejutan buat saya, dan berharap motivasi untuk menjadi terbaik di even-even ke depan,'' kata dara kelahiran Jakarta, 24 Januari 2002 tersebut.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Bob Hasan memberikan apresiasi atas prestasi yang didapatkan oleh Diva. Meskipun demikian, dia mengaku tak kaget dikarenakan sudah dia prediksi sebelumnya.

"Saya sengaja mendatangkan pelatih dari Rusia untuk atlet lompat galah ini. Tidak hanya dari sisi teknik, pelatih asing sangat disiplin dalam latihan,'' ujarnya.

Ditegaskan dia, walaupun atletik menargetkan delapan emas di ASG, akan tetapi dia optimistis bisa melebihi target. Dijelaskannya, pihaknya menyiapkan bonus kepada atlet berprestasi dan pemecah rekor.

Bonusnya, kata dia, berupa tabungan untuk masa depan dan modal usaha. Harapannya, para atlet ke depan bisa tercukupi kesejahteraannya. ''Untuk para atlet berprestasi, akan disiapkan bonus, akan tetapi bonus tersebut hanya boleh digunakan untuk tabungan atau untuk usaha. Saya ingin atlet kita kaya, dan tidak melarat,'' katanya.

Dia juga berharap, Indonesia memiliki sprinter baru selain Muhammad Zohri. Bob bangga terhadap si kembar Adith Rico Pradana dan Adith Richi Pradana yang meraih emas dan perunggu di nomor 100 m ASG 2019 ini. ''Saya bertekad ada 10-20 sprinter seperti si kembar ini,'' tambahnya.

Memimpin

Sementara itu, hingga hari ketiga, Indonesia masih memimpin klasemen perolehan medali dengan perolehan 20 emas, 20 perak dan 15 perunggu. Urutan kedua dan ketiga ditempati oleh Thailand (17-19-20) dan Malaysia (15-15-13).

Tidak hanya emas dari cabor atletik, Indonesia juga mendulang emas dari cabang tenis lapangan, bulutangkis dan renang. Cabang tenis meja yang diharapkan menciptakan kejutan, hanya mampu menyumbangkan perak beregu putri, setelah di partai final dikalahkan tim favorit Singapura dengan skor 0-3.

Komandan Kontingen Indonesia, Yayan Rubaeni mengakui, melihat progres hari ketiga, Indonesia masih memiliki banyak peluang mendapatkan emas.

Saya sagat mengapresiasi pada tenis lapangan yang membuat kejutan dengan meraih medali emas di nomor beregu putra dan putri. Rata-rata cabang sudah mendekati target seperti atletik, dan kami masih berharap di atletik dan renang,'' katanya.