BREAKINGNEWS.CO.ID - Konflik yang terus memanas antara Amerika Serikat dan seteru besarnya Iran membuat harga minyak mentah dunia kembali bergejolak ke level tertinggi pada Selasa (21/8/2018), atau Rabu WIB.. Situasi itu tersebut menyusul perang dagang antara negeri paman Sam itu dengan Cina yang tak kunjung mereda, sekaligus memaksa pedagang  dan analis bertindak hati-hati.
Kenaikan terjadi setelah  kelompok industri American Petroleum Institute (API) menyebut  stok minyak mentah AS turun 5,2 juta barel pekan lalu, lebih dari tiga kali lipat perkiraan para analis, karena impor turun dan operasi pengilangan meningkat.  Minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober naik 42 sen AS menjadi menetap di 72,63 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Patokan global itu, sebelumnya mencapai 72,95 dolar AS per barel, level tertinggi sejak 14 Agustus.

Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober, kontrak teraktif, naik 42 sen AS menjadi ditutup di 65,84 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Kontrak September yang berakhir pada Selasa (21/8) ditutup 92 sen lebih tinggi menjadi 67,35 dolar AS per barel.

Premi WTI September terhadap kontrak Oktober melebar hingga 1,69 dolar AS per barel pada Selasa (21/8), setelah menyempit sejak awal Agustus. Terakhir berada di 1,50 dolar AS per barel. Penguatan dalam selisih atau spread ini mengejutkan banyak pedagang, karena September biasanya dilihat sebagai bulan ketika persediaan mulai naik, ketika kilang-kilang mulai merencanakan kegiatan pemeliharaan.

Selisih bulan depan melebar secara signifikan pada Juli, setelah penutupan tak terduga di fasilitas pasir minyak Kanada mengurangi aliran minyak mentah ke Cushing, Oklahoma, titik pengiriman untuk kontrak berjangka AS. Fasilitas Syncrude sejak itu mulai meningkatkan produksi minyak ringan, yang mengejutkan para pelaku pasar, karena lebih awal dari yang diperkirakan dan menyebabkan mereka melakukan short the market, kata Bob Yawger, direktur berjangka di Mizuho Americas.. Harga minyak telah naik dalam dua sesi terakhir setelah berminggu-minggu menurun, akibat prospek pasokan minyak yang lebih rendah dari Iran. Amerika Serikat sedang berusaha menghentikan ekspor minyak Iran dalam upaya memaksa Teheran untuk merundingkan perjanjian nuklir baru dan untuk mengekang pengaruhnya di Timur Tengah. Namun demikian, dampak penuh sanksi-sanksi terhadap Iran belum jelas.

Sementara sebagian besar perusahaan-perusahaan energi Eropa cenderung mengurangi minyak Iran sejalan dengan kebijakan Washington, dan itu bertolak belakang dengan  Cina yang mengindikasikan akan terus membeli minyak negeri teluk Persia itu.

BNP Paribas mengatakan pihaknya memperkirakan produksi minyak dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), di mana Iran adalah anggotanya, turun dari rata-rata 32,1 juta barel per hari pada 2018 menjadi 31,7 juta pada 2019.

Namun, ekspor minyak dari Irak selatan berada di jalur untuk mencapai rekor tinggi lain bulan ini, dua sumber industri mengatakan, menambahkan hal itu menandai bahwa produsen terbesar kedua OPEC itu mengikuti kesepakatan kelompok untuk meningkatkan produksi. Washington pada Senin (20/8) menawarkan 11 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategisnya untuk pengiriman mulai 1 Oktober hingga 30 November. Minyak yang dilepas dapat mengimbangi kekurangan pasokan yang diperkirakan dari sanksi-sanksi terhadap Iran. Pasar juga terus mengamati perselisihan perdagangan AS-China, yang mengancam akan merusak pertumbuhan global dan, oleh karena itu, konsumsi komoditas industri.