BREAKINGNEWS.CO.ID – Angkatan bersenjata Iran, Garda Revolusi, pada akhirnya resmi memamerkan rudal balistik jarak jauh teknologi terbaru pada Kamis (7/2/2019) waktu setempat. Hal tersebut memicu amarah Amerika Serikat (AS) yang selama ini mendesak Taheran menghentikan pengembangan senjata tersebut.

Kantor berita Fars memberikan laporan bahwa rudal yang dikenal dengan nama "Dezful" itu memiliki jarak tempuh hingga 1.000 kilometer. Rudal itu disebut sebagai versi terbaru rudal Zolfaghar yang memiliki jangkauan hingga 700 kilometer dengan hulu ledak mencapai 450 kilometer.

Dikutip Reuters Jumat (8/2), sejumlah gambar yang dirilis media itu memperlihatkan sebuah pabrik rudal bawah tanah dengan sebutan "kota bawah tanah." Tidak hanya meresmikan rudal Dezful, Iran juga mengklaim memiliki sejumlah rudal dengan jarak tempuh hingga 2.000 kilometer. Teheran mengklaim rudal tersebut bisa menjangkau pangkalan militer Israel dan AS di kawasan itu.

Sementara itu, dilansir AFP, Gedung Putih mengecam keras pengembangan rudal yang masih dilakukan Iran tersebut. AS bersumpah akan terus menekan "tanpa belas kasihan" agar Iran mau menghentikan pengembangan peluru kendalinya itu. "Ini merupakan pengabaian terang-terangan Iran terhadap hukum internasional. Kita harus mengembalikan pembatasan internasional yang lebih ketat untuk membendung program rudal Iran," ucap wakil juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Robert Palladino.

"AS akan terus tanpa henti membangun dukungan di seluruh dunia untuk menghadapi aktivitas rudal balistik yang sembrono dari rezim Iran. Kami akan terus memberikan tekanan pada rezim Iran sampai negara itu mengubah perilaku merugikannya." Relasi Iran-AS kembali memanas terutama setelah Presiden Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 atau The Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada Mei lalu.

Perjanjian yang disepakati pada 2015 itu berisi kesepakatan Iran untuk menyetop pembangunan program senjata rudal dan nuklirnya, dengan imbalan pencabutan sanksi serta embargo bagi Iran. Perjanjian itu disepakati Iran, AS, Perancis, Rusia, Cina, Inggirs, Jerman, dan Uni Eropa. Trump menganggap JCPOA, yang disepakati oleh pendahulunya, Barack Obama, merupakan sebuah "bencana" dan memutuskan menjatuhkan kembali sanksi terhadap Iran secara unilateral. Meski AS telah keluar, Iran dan negara Eropa tetap mempertahankan komitmen untuk menjalankan perjanjian tersebut.