JAKARTA – Keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk mengakui Yerusalem menjadi ibu kota Israel mendapatkan pujian dari Perdana Menteri, Benjamin Netanyahu. Dia juga menyerukan agar dunia mengikuti jejak Amerika Serikat.

“Semua negara yang ingin perdamaian, silakan ikuti Amerika Serikat dalam mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan kedutaan besar mereka ke sini,” ujar Netanyahu, Rabu (6/12/2017). Netanyahu menuturkan, sudah saatnya dunia mengakui Yerusalem menjadi ibu kota Israel yang telah menjadi pusat segala yang diimpikan, harapan, serta doa rakyat Israel selama berpuluh-puluh tahun.

“Ini adalah hari bersejarah. Kami sangat bersyukur atas keputusan berani Presiden Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan bersiap membuka kedutaan besarnya di sini,” kata Netanyahu. Pengakuan AS ini dianggap menjadi kemenangan tersendiri untuk Netanyahu dikarenakan Yerusalem telah diperebutkan oleh Israel serta Palestina sejak lama.

Israel pada akhirnya berhasil merebut Yerusalem saat perang Timur Tengah pada 1967 silam. Mereka kemudian mencaplok daerah tersebut, tapi tak diakui oleh masyarakat internasional. Untuk menegaskan penolakan tersebut, tidak ada negara asing yang mendirikan kantor perwakilannya untuk Israel di Yerusalem.

Kongres AS sebenarnya sudah meloloskan undang-undang untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel sejak 1995. Namun, Presiden AS sebelum Trump selalu menangguhkan hukum tersebut demi menghindari pergolakan politik di Timur Tengah.

Keputusan Trump ini pun dikecam oleh banyak pihak dari seluruh penjuru dunia, termasuk sekutu AS sendiri, seperti Perancis, Inggris, Turki, dan Jerman. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, ikut angkat bicara. Menurutnya, status akhir Yerusalem hanya dapat tercapai setelah perundingan damai antara Israel dan Palestina mencapai mufakat.

“Saya selalu menentang segala upaya unilateral yang dapat melemahkan upaya perdamaian antara Israel dan Palestina. Saya akan melakukan apa pun untuk mendukung pemimpin Israel dan Palestina kembali ke jalur negosiasi,” katanya. Keputusan ini juga tak lepas dari radar pengamat. Sejumlah pakar menganggap Trump bagai burung beo yang hanya mengikuti semua omongan Netanyahu sebagai sekutunya.